Penderita Tak Boleh Lupa Minum Obat
SLEMAN– Jumlah penderita tuberculosis (TB) di Sleman mengalami penurunan angka secara statistik. Saat ini, dari lebih 1 juta jiwa penduduk Sleman, 678 orang di antaranya diperkirakan menderita TB baksil tahan asam positif. Angka itu terdata sejak awal 2014.
Jumlah tersebut memang lebih sedikit dibanding kasus selama 2013 yang mencapai 717 penderita. Jumlah penderita kala itu memang menurun menjadi 404 penderita. Itu setelah dilakukan program pengendalian TB.
“Angka itu masih di bawah target penemuan kasus sebesar 70 persen,” ungkap Sekda Pemkab Sleman Sunartono di sela sarasehan TB dalam rangka peringatan Hari TB Sedunia di rumah dinas bupati kemarin (27/3).
Sunartono menilai penurunan kasus tersebut tidak signifikan. Mengingat sejak tahun 2012 terdapat kasus TB kebal obat sebanyak 10 penderita. Apalagi, saat ini terhitung triwulan pertama 2014 saja belum selesai.
Hal itu menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli dan waspada pada gejala penyakit TB di lingkungan tempat tinggal masing-masing. “Semua pihak harus peduli terhadap upaya untuk mengendalikan dan memberantas penyakit TB,” imbaunya.
Hal itu butuh peran serta pihak penderita, keluarga, dan lingkungan supaya penanganan kasus lebih efektif. Jika ada warga yang menemukan adanya kasus TB maupun orang suspek TB diharapkan segera melapor atau membawa penderita ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. Untuk menjalani pemeriksaan awal.
Jika ditemukan kasus TB ataupun suspect TB, segeralah pergi ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk diperiksa.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan mendata bahwa mayoritas penderita TB justeru kelompok usia produktif, antara 15-50 tahun.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan dr Mafilindati Nurain, penderita suspek belum tentu positif TB. “Bisa jadi hanya penderita B3, yakni bukan batuk biasa,” paparnya.
Mafilinda mengatakan, penderita TB biasanya bergejala batuk dalam jangka lebih 2 pekan, berdahak, mriang, serta sesak napas.
Untuk mengobatinya harus rutin selama 6 bulan nonstop. Selanjutnya dilakukan uji laboratorium. Jika masih ada kuman pada air liur penderita, pengobatan harus diperpanjang dua bulan lagi dengan suntikan setiap hari. Selama pengobatan, penderita diimbau tak lupa minum obat. Sebab, itu bisa mengakibatkan kuman kebal. Jika itu terjadi, penderita bisa jadi harus mengonsumsi obat seumur hidup. (yog/din)