BPPTKG Minta
Warga Tetap Tenang
SLEMAN – Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja Subandriyo meminta warga yang tinggal di sekitar kawasan Merapi untuk tetap tenang. Menurut Subandriyo, hingga kemarin (27/3), status Merapi masih normal.
“Kami minta warga tenang, tidak mengungsi. Setiap ada perkembangan pasti kami informasikan ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat,” papar Subandrio kemarin.
Kepala Badan Geologi Surono juga mengatakan, Gunung Merapi masih normal. Hingga kemarin, belum ada tanda-tanda aktivitas lanjutan.
Pihaknya telah menginstruksikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memantau secara rinci aktivitas Gunung Merapi. “Ini untuk keselamatan dan ketenangan masyarakat di sekitar Merapi,” kata Surono.
Sekitar pukul 17.05 kemarin, puncak Gunung Merapi kembali mengeluarkan material vulkanik. Akibat semburan material vulkanik itu, terjadi hujan abu, pasir, dan kerikil dengan intensitas ringan.
Hujan material Merapi itu menerpa kawasan rawan bencana (KRB) di wilayah Cangkringan. Yakni, Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen (Desa Glagaharjo), sebagian Desa Kepuharjo, Argomulyo, dan Wukirsari, serta Balerante (Klaten). Sejumlah warga yang panik segera mengungsikan diri ke balai desa setempat.
Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto menuturkan, saat hujan abu, hanya lansia, ibu-ibu, dan anak-anak balita yang diungsikan ke balai desa. Sementara warga pria dewasa bersiaga di titik-titik kumpul. Setelah hujan abu mereda, masyarakat kembali ke rumah masing-masing.
Sebelum mengeluarkan material vulkanik, terjadi gejala freatik dari perut bumi. Itu menimbulkan suara gemuruh sekitar pukul 13.12-13.19 yang terdengar sampai radius 7-8 kilometer. Selain itu, gemuruh memicu terjadinya getaran hingga terasa sejauh delapan kilometer.
“Suara gemuruh juga disertai hujan abu dan pasir di sekitar gunung,” kata Lasiman Pecut, seorang petugas pengamatan Gunung Merapi di Pos Kaliurang.
Saat terjadi gemuruh, petugas dari pos pengamatan tidak dapat melihat puncak gunung karena tertutup awan tebal. Setelah itu, turun hujan pasir dan abu di sisi timur dan selatan. “Awalnya ada asap putih, lalu menjadi hitam, terus hujan abu dan pasir sampai sore sekitar pukul 15.00,” jelasnya.
Saat itu warga bersiap dievakuasi dengan menuju titik-titik kumpul. Tetapi setelah gemuruh berhenti, warga berangsur kembali ke rumah masing-masing.
Mengenai embusan material Merapi, Subandriyo menerangkan, pihaknya tidak dapat memprediksi ketinggian embusan. Alasannya, alat visual tidak dapat melihat dengan pasti. “Untuk ketinggian kami belum bisa memastikan berapa, tapi hujan abu maksimal tujuh kilometer ke arah selatan tenggara,” kata Subandriyo.
Menurut dia, embusan yang terjadi kemarin kerap terjadi pascaerupsi Merapi 2010. Sebab, perut bumi sering melepaskan gas, apalagi kandungan gas di dalam Gunung Merapi sangat tinggi. Dia memprediksi, embusan itu terjadi karena ada gempa tektonik serta gempa vulkanik dalam perut gunung.
Informasi dari Kades Glagaharjo Suroto, seorang warga terjatuh dari sepeda motor saat mengungsi. Korban bernama Ny Kartowiyono, 46, warga RT 01/RW17 Dusun Kalitengah Kidul kini dirawat di RS Bhayangkara. (yog/mar/abd)
Warga Kembali ke Rumah setelah Hujan Abu Reda