BANTUL – Wayang sebagai warisan tradisi bangsa Indonesia akan digunakan sebagai pendidikan karakter. Tidak hanya itu, wayang sudah menjadi tombak terdepan dalam membentuk karakter bangsa.
“Seperti yang kita tahu, wayang menyimpan filosofi yang sangat tinggi. Nah, filosofi ini bsia digunakan sebagai tonggak membangun karakter bansga. Ini bisa terlihat dari pesan moral yang diusung dalam setiap tokoh atau lakonnya,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Prof Dr Syawal Gultom saat pembukaan Kegiatan Peningkatan Kompetensi Teknis Pedalangan di Hotel Ros-In, Selasa malam (25/4).
Peningkatan kompetensi bertajuk Dalang Profesional untuk Mendukung Pendidikan Karakter Bangsa diadakan untuk memaksimalkan fungsi dari wayang.
Kegiatan tersebut diselenggarakan hingga 31 Maret mendatang. Syawal menambahkan, kegiatan tersebut merangkul puluhan instruktur pedalangan se-Indonesia. Menurutnya, dalang memiliki kemampuan serta kreativitas yang mampu menjembatani komunikasi antara manusia dengan alam semesta.
Selain itu, dalang memiliki nilai kritis dalam melakoni setiap pementasan wayang. Ia mencontohkan, setiap dalang dengan jeli mampu mengangkat situasi negara menjadi sebuah cerita. Bentuk kritis itupun diwujudkan dalam lakon yang menyampaikan pesan-pesan moral dan dikemas dengan khas gaya pewayangan.
“Seorang dalang tidak hanya menyampaikan cerita saja, namun juga nilai-nilai pentingnya. Sebagai seorang dalang, pastinya akan selalu ditiru. Baik dalam hal tutur kata yang sangat baik, di samping memiliki sisi humor. Bahkan nilai-nilai sastra pun turut diemban seorang dalang,” tegasnya,
Ditambahkan, seni pedalangan dan pewayangan dianggap pas dalam membetuk karakter bangsa. Karena, kedua ilmu ini memuat sisi etika, estetika, psikologi, edukasi dan kreativitas. Untuk mewujudkan karakter bangsa, wayang diadopi ke dalam dunia pendidikan.
Syawal mengungkapkan, wayang akan dimasukan ke dalam kurikulum sekolah. Penggodogan sudah dilakukan melalui kurikulum 2013. Rencananya, kurikulum itu akan diterapkan pada tahun ajaran 2014. Kurikulum 2013, lanjut Syawal, memerlukan media dalam pembentukan sikap dan karakter siswa.
Dirinya melihat, kompetensi pedalangan memungkinkan dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Tentunya dengan berbagai rumusan dari sisi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap peserta didik yang ingin dicapai.
“Akan segera direalisasikan kurikulum ini. Berbagai penggodogan dilakukan saat ini untuk menentukan materi isian dan parameter penilaian. Pendekatan akan disesuaikan untuk menilai, apakah seorang siswa memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang pas menjadi seorang dalang,” katanya.(dwi/hes)