*Saat Gerebek Gethuk, Masyarakat Serbu Gunungan
MAGELANG –Gerebek Gethuk di Alun-alun sebagai puncak kegiatan HUT ke-1.108 Kota Magelang ternyata sepi penonton. Tidak hanya itu, acara tersebut sempat molor.
Kenyataan ini semakin memprihatinkan, karena deretan kursi bagian depan kosong semua. Pejabat dan undangan yang datang sedikit.
“Ditambah adanya pagar besi, seolah menjadi penanda kegiatan tersebut hanya bagi tamu undangan yang rata-rata pejabat. Sayangnya, para tamu undangan banyak yang tidak datang. Sungguh sia-sia,” kritik Uli, warga Menowo, kemarin (20/4).
Dalam kegiatan tersebut, ratusan penari dan seniman ikut memeriahkan acara. Mereka menari di hadapan tamu khusus dan masyarakat umum sebelum Gerebek Gethuk dilaksanakan. Para penari dari beberapa sanggar kesenian, sekolah, dan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemkot Magelang.
Mereka menampilkan aneka tarian. Seperti “Rampak Buto”, “Prajuritan”, dan “Ngrembakane Budoyo” serta tarian “Hilangnya Sukerto”.
Di akhir prosesi gerebek, masyarakat berhamburan masuk “merayah” dua gunungan gethuk.
“Dua jam saya menunggu di luar pagar. Sebenarnya kecewa, karena tidak bisa masuk karena ada pagar besi. Tapi tidak apa-apa, toh bisa masuk pada saat gerebek,” papar Rahmah, warga Bagongan, Meryotudan yang sengaja menyaksikan gerebek.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabdupar) Kota Magelang, Hartoko mengatakan, pentas tarian setiap tahunnya selalu berbeda. Kalau tahun lalu (HUT ke-1.107) ada tarian kolosal “Undhuk” dan “Magelang Berhias”, tahun ini ditampilkan tarian yang berbeda.
“Agar penonton tidak bosan, sekaligus menunjukkan kalau anak-anak kreatif dalam menarikan segala jenis tarian. Dukungan seniman dan pegiat seni sangat besar, sehingga penampilan penari bisa maksimal,” katanya.
Selain tarian, tahun ini ada 17 gunungan palawija mewakili setiap kelurahan di Kota Magelang yang dilombakan. Kriteria penilaian di performing art, seragam, kekompakan, dan gunungan itu sendiri. Ini memberi semangat para wakil kelurahan dalam menyajikan gunungan.
“Termasuk kami juga berbeda di jumlah gethuk dalam dua gunungan Kakung dan Putri, yakni sebanyak 1.108 sesuai usia kotanya. Gunungan kakung melambangkan Pakuning Tanah Jawa. Sedangkan gunungan putri menyimbolkan Kota Sejuta Bunga,” katanya.
Wali Kota Sigit Widyonindito menyatakan, gerebek tahun ini menandakan sebagai tahun berkesan. Tahun berkesan merupakan tahapan ke-4 dari tujuan utama di 2015 berupa “Ayo ke Magelang Tahun 2015”.
“Tahun 2011 merupakan tahun perencanaan, 2012 menjadi tahun pencanangan, lalu 2013 tahun berhias, dan sekarang tahun berkesan. Di tahun ini, disiapkan infrastruktur dengan baik, sarana dan prasana terbaik, serta penataan yang bagus untuk menyongsong 2015,” katanya.(dem/hes)