Melihat Budaya Asing dan Tidak sebagai Ancaman
SLEMAN – Jogjakarta sebagai kota pelajar terbukti mampu mengumpulkan pemuda daerah dari seluruh Indonesia. Para pemuda ini tidak hanya menimba ilmu, juga membawa kebudayaan masing-masing daerah. Alhasil, ragam budaya daerah ini membuat Jogja layaknya Indonesia mini.
“Sebagai pemuda, sudah seharusnya berjuang, mengabdi, dan berbakti dalam wujud kebudayaan. Perbedaan dalam hal budaya bukanlah pemecah, tapi pemersatu bagi pemuda Indonesia,” kata etua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Regional Jogjakarta, GKR Pembayun pada pembukaan Cultural Festival di Gedung PKKH UGM, Minggu malam (20/4).
Dalam kesempatan tersebut, Pembayun juga mengungkapkan, pemuda merupakan tonggak penting bangsa Indonesia. Bahkan, dengan keragaman daerah ini mampu memberi warna Jogjakarta.
Ragam perbedaan ini, lanjut Pembayun, sudah mengakar kuat di Jogjakarta. Bahkan, beberapa perwakilan daerah memiliki ikatan keluarga yang kuat. Ragam ini menurut Pembayun bisa menjadi jendela dalam hal pengetahuan dan kekeluargaan.
Menurutnya, ragam budaya ini menjadi pemererat ketika mampu terbuka untuk saling dipelajari. Ia berpesan agar pemuda daerah mampu menjaga iklim toleransi di Jogjakarta.
Pada kesempatan tersebut, Pembayun juga menandatandangi Ikrar Pemuda Daerah bersama Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr Senawi, dan Ketua IKPMDI Jogjakarta, Munszar.
“Ikrar ini sebagai monumen menjaga iklim toleransi dan keharmonisan pemuda daerah di Jogjakarta. Tentunya ini menjadi tugas kita bersama sebagai pemuda untuk menjaga iklim ini. Saling mengingatkan dan menjaga hubungan baik,” tegas Pembayun.
Adapun Cultural Festival yang digagas UGM untuk mewadahi keragaman budaya di Jogjakarta. Bertajuk Colorfoul Nations, Beatiful Cultures, acara ini memamerkan kekayaan budaya dalam berbagai stan. Acara yang digelar bersama Ikatan Pemuda Mahasiswa Daerah Indonesia (IKPMDI) Regional Jogjakarta ini, melibatkan mahasiswa daerah yang ada di Jogjakarta. Selain budaya daerah, budaya negara lain seperti Perancis, Australia, dan Korea pun ikut meramaikan acara ini.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr Senawi mengungkapkan, UGM sebagai civitas akademik sangat heterogen. Keragaman ini membuat UGM perlu melestarikan kebudayaan daerah yang dibawa oleh para mahasiswanya.
“Kekayaan daerah kita uri-uri agar terus lestari dan ada hingga generasi berikutnya. Selain itu juga, belajar dengan melihat budaya asing dan tidak melihatnya sebagai ancaman. Jadikan kekayaan budaya daerah di Indonesia sebagai kekayaan budaya di dunia internasional,” kata Senawi.(dwi/hes)