Galuh Ajak Merasa Lapar dalam Ilmu Pengetahuan
JOGJA – Perenungan dan pengalaman dari perjalanan hidup mampu menginspirasi saat berkarya. Inilah yang dilakoni seorang penulis Galuh Larasati dalam buku novel terbarunya yang berjudul Nawung: Putri Malu dari Jawa.
Peluncuran novel ini dilakukan di Tirana Art Space, Jalan Suryodiningratan Jogjakarta, Senin malam (21/4). Galuh mengungkapkan, novel tersebut mengambil filosofi tentang kehidupan manusia dari tembang macapat.
Dipilihnya macapat, menurutnya memiliki kelebihan nilai dalam kehidupan manusia. Di mana, manusia telah dirancang kehadirannya di dunia, sejak masih berada di dalam kandungan.
“Setelah terlahir, semua menjalani siklus yang sama seperti yang tersirat dalam tembang-tembang macapat. Bentuk keinginan-keinginan, jatuh cinta, patah hati, sukses, kecewa, sedih, hingga bahagia. Semua pasti merasakan fase ini dan fase-fase tersebut merupakan proses pembelajaran hidup,” papar Galuh.
Galuh menjelaskan, Nawung Sekar merupakan sosok yang lahir dari keluarga sederhana. Berlatar belakang Dinasti Syailendra, Galuh menghadirkan Nawung Sekar sebagai sosok yang kalem dan agak pendiam. Sosok Nawung Sekar ini juga digambarkan memiliki rasa sosial yang tinggi dan memiliki kepedulian terhadap lingkungannya.
Melalui novel ini, Galuh ingin mengajak setiap manusia merasa lapar dalam hal ilmu pengetahuan. Menurutnya, semakin orang lapar, pengalaman hidup yang diperoleh semakin kaya. Alhasil, ilmu pengetahuan yang didapat tidak hanya berguna bagi diri sendiri, juga lingkungannya.
“Cerita novel ini menggambarkan sosok wanita yang memiliki pemikiran belajar merupakan bagian hidup yang penting. Ilmu pengetahuan yang didapat tidak terbatas dalam koridor formal saja, bisa juga dalam pengalaman nonformal. Asalkan berdampak positif, ilmu dan pengetahuan, itu yang wajib dikejar terus,” kata Galuh.
Dalam novel ini, Galuh juga bercerita bahwa ilmu pengetahuan juga wajib diimbangi spiritual agama. Pendidikan tanpa agama, menurut Galuh, merupakan benda padat namun kosong di sisi dalamnya. Sehingga sangat rapuh meski terlihat sangat kuat dari luar.
“Intinya, Nawung Sekar ingin menyampaikan dalam hidup ini manusia harus selalu menjaga hubungan batin dengan Penciptanya, senantiasa mengasihi sesama, dan merawat bumi tempat berpijak,” tambah Galuh.
Dalam menggarap novel pertamanya ini, Galuh menggandeng seorang visual art, Day. Day menghadirkan karya-karya ilustrasi dengan nuansa Nusantara dan dikemas secara manual atau handmade. Karya Day ini juga menghiasi dinding-dinding Tirana Art Space melengkapi peluncuran novel Nawung Sekar milih Galuh.(dwi/hes)