JOGJA – Asosiasi Pendidik dan Pengembang Bahasa Mandarin di Indonesia (APPBMI) DIJ kembali menggelar Lomba Bahasa Mandarin Tingkat Provinsi DIJ. Bekerjasama dengan Sekolah Vokasi UGM, sebanyak 110 peserta dari tingkat SD, SMP dan SMA mengikuti lomba yang diadakan Minggu (27/4) lalu.
Kegiatan ini sendiri bertujuan meningkatkan antusiasme pelajar dalam belajar bahasa Mandarin. Ketua APPBMI DIJ Nicodemus Sanny mengatakan kegiatan tahunan ini sudah yang ketujuh kalinya diadakan. Setiap tahunnya, jumlah peserta terus meningkat. Sedangkan tiga tahun belakangan perkembangannya cukup stabil.
“Kemampuan berbahasa Mandarin para peserta sudah cukup bagus, terlihat penilaian yang cukup ketat,” ujar Sanny, sapaannya, kemarin (2/5).
Dirinya mengatakan, tahun ini para peserta sudah tampak lebih mempersiapkan diri. Masing-masing didukung oleh sekolahnya. Bahkan beberapa sekolah lebih dulu mengadakan lomba di tingkat sekolah, kemudian yang juara dikirim mengikuti lomba tingkat provinsi ini.
Selain untuk menumbuhkan minat belajar, lomba ini sekaligus sebagai ajang untuk mengasah kemampuan diri para peserta. Mulai dari kelancaran, ekspresi juga pelafalan.
Lomba ini sendiri terbagi menjadi dua kategori. Untuk tingkat SD dan SMP mengusung tema Chinese Wisdom. Dimana panitia telah mempersiapkan cerita klasik yang mengandung pesan tentang kebijakan. Kemudian para peserta menceritakan kembali dengan gaya bahasa dan ekspresinya, sehingga kisah yang diceritakan dapat dimengerti. Sementara itu, di tingkat SMA mengusung tema My Chinese Dream, dimana para peserta membuat cerita atau karangan sendiri yang kemudian diceritakan kembali.
“Untuk tingkat SMA, yang juara akan dikirim ke lomba bahasa Mandarin tingkat nasional di Bandung,” ujar Sanny.
Dirinya menambahkan melihat para peserta tahun ini, cukup memperlihatkan perkembangan yang baik. Dalam perkembangan kemampuan para pelajar, dukungan sekolah sangat penting. Namun pihaknya tidak ingin mendorong teralu keras, mengingat masih terbatasnya sumber daya manusia (SDM).
“Kami ingin mematangkan dulu SDM, saat ini ada delapan pendidik bahasa Mandarin yang sedang menempuh pendidikan S1 dan S2. Setelah itu baru bisa kita tingkatkan lagi,” ujar Sanny. (dya/ila)