JOGJA-Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi DIJ bertekad mengawasi secara ketat kinerja sejumlah perusahaan jasa, maupun industri yang tersebar di DIJ. Pengawasan sebagai bagian dari program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan atau disingkat Proper.
“Kalau rapornya tetap hitam dan nggak mau berbenah, kami akan pidanakan. Kami laporkan ke polisi,” ungkap Kepala BLH Provinsi DIJ Joko Wuryantoro di sela rapat koordinasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Ekoregion Jawa dan Peringatan Hari Lingkungan Provinsi DIJ 2014 di Hotel Eastparc Jogjakarta kemarin (17/6).
Joko mengatakan, Proper terdiri atas lima penilaian. Yakni emas, hijau, biru, merah, dan hitam. “Penilaian hitam yang itu yang paling rendah,” katanya. Mantan Kabid Bina Program Dinas Kimpraswil Provinsi DIJ itu mengingatkan, dengan adanya Proper itu, ke depan perusahaan-perusahaan harus mematuhi rambu-rambu pengelolaan lingkungan. Sebab, bila mengabaikan, bahkan melanggar, pihaknya tak segan-segan bertindak tegas. “Kami juga siapkan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) untuk melakukan penindakan,” tegasnya. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Provinsi DIJ itu juga ditandai dengan penyerahan hadiah Kalpataru bagi sejumlah pemenang. Penyerahan dilakukan Sekprov DIJ Ichsanuri mewakili gubernur DIJ.
Pemenang itu meliputi kategori perintis lingkungan, penyelamat lingkungan, pembina lingkungan, dan pengabdi lingkungan. Juga diberikan hadiah bagi enam perusahaan yang dinyatakan sebagai pemenang evaluasi minimasi air limbah. Enam perusahaan itu adalah PC GKBI Jalan Magelang Km 14 Sleman, PT Samitex Sewon, Bantul, dan PT Budi Makmur Jaya Murni Jalan Ki Penjawi Rejowinangun, Kotagede, Jogja. Lalu, Jogjakarta Plaza Hotel, Hotel Santika, dan Hotel Melia Purosani. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT) Istijab M. Danunagoro mengatakan, kesadaran pemilik dan pengelola hotel di DIJ terhadap pengelolaan limbah semakin baik. Ada tiga bentuk limbah yang dikelola oleh usaha jasa perhotelan. Yakni padat, cair, dan limbah berbahaya.
Terkait dengan proper, Istijab menyebutkan, ada 20 hotel yang memiliki proper dengan kategori biru. “Rata-rata hotel bintang,” terang pria yang mendapat gelar kekancingan dari raja Keraton Surakarta mendiang Sinuhun Paku Buwono XII. Adapun hotel yang mengantongi proper biru itu antara lain Grand Quality, Hyatt, Melia Purosani, Tentrem, Santika, Phoenix, dan beberapa hotel bintang lainnya. “Tak ada yang kategorinya hitam,” ungkapnya. Diakui, bila sampai menyandang status hitam itu, maka hotel tersebut akan mendapatkan risiko. Di antaranya, bisa diadukan ke bank yang memberikan pinjaman sehingga akan menemui kesulitan mengakses kredit perbankan. “Pengelolaan lingkungan harus diperhatikan,” pintanya. Dalam acara tersebut, Istijab meneken deklarasi bersama menuju hotel ramah lingkungan. Deklarasi itu berisi lima poin. Antara lain tekad mengelola sampah dan limbah secara ramah lingkungan. Juga memberikan keteladan kepada tamu hotel untuk membudayakan perilaku ramah lingkungan secara konsisten. Deklarasi diteken Istijab bersama Kepala BLH Provinsi DIJ Joko Wuryantoro, dan Kepala Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa (PPEJ) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Sugeng Priyanto.
Menteri Negara Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya,yang hadir dalam acara itu, menyinggung pentingnya fungsi bank sampah bagi masyarakat. Selain membantu secara nyata, pengelolaan bank sampah juga menumbuhkan partisipasi bagi masyarakat. Bahkan dari bank sampah, masyarakat bisa mengelola dana yang mencapai miliaran rupiah. “Bank sampah juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya. (kus/amd)