KRETEK – Langit cerah pantai Parangkusumo kemarin (22/6) dihiasi puluhan layang-layang berwarna-warni. Layang-layang dengan beragam model dan ukuran tersebut memeriahkan agenda tahunan bernama Bantul Kite Festival. Tetapi untuk menerbangkan layang-layang berukuran jumbo tersebut bukanlah perkara mudah. Kali ini para peserta membutuhkan perjuangan ekstra. Kondisi angin di bawah standar sebagai pemicunya.”Layang tiga dimensi butuh angin banyak agar bisa terbang,” aku koordinator Bantul Kite Festival Aji Marutahara.
Apalagi, kondisi layang-layang saat berada di udara menjadi salah satu kriteria penilaian dewan juri. Setidaknya layang-layang tiga dimensi harus bertahan di udara selama satu hingga dua menit jika ingin mendapatkan poin lebih dari tim penilai. “Yang diperlombakan ada beberapa kategori yaitu layang-layang tradisional, dua dimensi, tiga dimensi, dan naga,” sebutnya. Semua kategori layang-layang tersebut standar penilaiannya hampir sama. Yakni kriteria atas dan bawah. Untuk penilaian kriteria bawah lebih menyangkut pada kerapian kerangka dan komposisi keharmonisan paduan warna. “Kerapian dalam memotong, kemudian kerapian lem juga dinilai,” urainya. Untuk kriteria atas, lanjutnya, penilaian terletak pada start, kecepatan terbang, kestabilan di udara hingga kekencangan tali.
Ketua Bantul Kite Fesitval Harjono mengatakan, festival layang-layang tahun ini diikuti 30 klub. Mereka berasal dari Jogja dan berbagai kabupaten di Jawa Tengah. Misalnya, Kebumen, Magelang, Muntilan, Solo, dan Cilacap. “Dari Jogja ada 18 klub, sementara 12 klub dari Jawa Tengah,” jelasnya. Festival tahun ini hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Bedanya terletak pada keikutsertaan peserta asal Johor Malaysia. Hanya saja, layang-layang yang diterbangkan peserta asal negeri jiran ini tidak diperlombakan. “Layang-layangnya unik. Setelah diterbangkan kantung yang berada di layang-layang akan meledak dan mengeluarkan permen serta berbagai doorprise yang diperebutkan para penonton,” paparnya.(zam/din)