JOGJA – Perjalanan PSIM Jogja untuk mempertahankan status pemuncak klasemen Grup 5 Divisi Utama 2014 kembali mendapatkan ujian. Selain masalah gaji yang belum beres, tim berjuluk Laskar Mataram itu terancam tak dapat menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai homebase pada sisa kompetisi musim ini. Hal ini menyusul direnovasinya stadion berkapasitas lebih dari 10 ribu penonton. Kantor Balai Pemuda Olahraga (BPO) DIJ dengan menggunakan dana APBD Rp 30 miliar, merenovasi stadion selama lima bulan. Itu sejak 1 Juli lalu hingga 22 Desember mendatang.
Staf Kasi Olahraga Kantor BPO DIJ Restu Teguh mengatakan, fokus renovasi kali ini terletak pada dua sisi tribun timur dan selatan. Berdasarkan Detail Engineering Design (DED)-nya kedua tribun tersebut dibuat dua tingkat dengan atap tertutup. Restu memastikan PSIM tidak dapat menggunakan Mandala Krida selama proses renovasi. Selain mendapat masukan dari pemborong tentunya tidak elok jika melihat pertandingan bertaraf nasional dimainkan dalam stadion yang tribunnya tengah dibongkar. “Sebenarnya boleh saja PSIM main saat direnovasi tapi kan tidak elok, mosok main di Divisi Utama dengan keadaan stadion sedang dibongkar,” jelasnya.
Namun Restu menyatakan Mandala Krida kemungkinan masih dapat dipergunakan untuk berlatih. Yang jelas dalam waktu dekat PO akan memberikan surat sekaligus mengundang manajemen PSIM melakukan dialog. “Biar bagaimanapun kami harus melakukan perundingan agar win win solution bisa tercapai,” jelasnya. Menurutnya, untuk musim ini PSIM boleh saja tidak dapat lagi menggunakan stadion ini. Namun ke depannya renovasi Mandala Krida ini akan menguntungkan Laskar Mataram. Ya, dengan kapasitas makin besar otomatis PSIM dapat memaksimalkan pemasukan dari tiket laga kandang.
Direktur Operasional PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) Jarot Sri Kastawa menyesalkan proses renovasi Mandala Krida yang terkesan mendadak. Karena hal tersebut tentu PSIM harus ngebut untuk menemukan solusi. Terlebih lagi setelah Idul Fitri PSIM dijadwalkan menjamu PSS Sleman dalam laga bertajuk Derby d’ Jogjakarta 8 Agustus mendatang. “Tentunya dengan ini kami kelabakan. Terlebih lagi ada masalah lain yang belum terselesaikan, yakni gaji pemain,” paparnya.
Secara pribadi Jarot menyatakan ada dua stadion yang dapat dipakai PSIM dalam menjalani sisa kompetisi yakni Stadion Sasana Krida, Akademi Angkatan Udara (AAU) serta markas Persiba Bantul Stadion Sultan Agung (SSA). Bila melihat dari sisi bisnis tentu SSA adalah pilihan paling tapat sebab PSIM masih bisa menggelar laga dengan penonton. Ditambah lagi fakta kalau Kabupaten Bantul ialah kantong pendukung PSIM yang cukup besar. “Saya berharap panpel juga bisa bergerak cepat menemukan stadion pengganti. Pasalnya PSIM kan juga harus memberikan surat permohonan pemindahan kandang ke PT Liga Indonesia (PT LI),” tegasnya. (nes/din)