SLEMAN – Imbauan Pemkab Sleman tentang jam buka tempat hiburan malam selama Ramadan ternyata tidak sepenuhnya diikuti oleh pengusaha.Razia yang digelar tim gabungan Satpol PP, Polres, dan BNNK Sleman, Rabu dini hari (15/7) menemukan sedikitnya dua rumah karaoke yang melanggar Peraturan Bupati Nomor 26 Tahun 2013 Penyelenggaraan Usaha Hiburan Umum, Rumah Makan, Restoran dan Hotel pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri.Dengan alasan menunggu pengunjung habis, rumah karaoke buka sampai jam 01.00. Kabid Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Sleman Ignatius Sunarto tidak menyebut detil rumah karaoke yang melanggar. “Ada lima yang kami pantau. Tiga di Seturan dan Babarsari dan dua di Ring Road Utara,” ujarnya kemarin (16/7).
Sunarto membeberkan, dua rumah karaoke tersebut tidak sekadar melanggar ketentuan jam operasional selama Ramadan, yakni sampai pukul 24.00. Satu di antaranya bahkan mengantongi tanda daftar usaha pariwisata (TDUP) yang kadaluwarsa. Satu lagi izinnya lengkap dan hanya buka sampai melebihi ketentuan. “Satu kami peringatkan, satu lagi hanya pembinaan,” ungkap Sunarto tentang sanksi bagi pelanggar. Dari tes urine yang dilakukan petugas BNNK, hanya satu yang dinyatakan positif. Itu pun hasilnya masih menunggu uji lababoratorium lanjutan. Sebab, subjek yang dites urinnya mengaku telah mengonsumsi obat flu sebelum razia. Diduga, hasil positif itu akibat kandungan zat tertentu pada obat influenza itu.
Kios kelontong dan toko modern berjejaring juga menjadi sasaran razia Satpol PP selama Ramadan. Terkait peredaran minuman keras, sejak awal Ramadan, petugas belum menemukan toko modern maupun kelontong yang menjual miras. Namun, Satpol mendapati tiga dari lima toko modern yang dirazia tidak berizin lengkap. “Tiga toko baru punya IMB, dua lainnya malah belum sama sekali bisa menunjukkan izin,” ungkapnya.Sunarto memberikan tenggang waktu tiga bulan bagi pengusaha toko untuk mengurus izin. Jika dalam tempo yang ditentukan izin belum diurus, Satpol PP akan melakukan penutupan paksa. “Kami memang fokus toko modern yang baru berdiri. Sebagian belum punya HO dan izin usaha toko modern,” katanya.(yog/din)