JOGJA – Manajemen serta Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan PSIM Jogja sepertinya mantap memilih Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul sebagai tempat menjamu PSS Sleman dalam laga bertajuk Derby d’ Jogjakarta. Setelah Stadion Mandala Krida sulit digunakan karena tengah memasuki tahap renovasi, PSIM memang membidik markas Persiba Bantul tersebut sebagai kandang.Bahkan, agar dapat menggunakan stadion berkapasitas 18.000 penonton saat menjamu PSS Sleman, PSIM siap mengundur laga selama satu hari ke Sabtu (9/8). Ya, bermain sesuai jadwal seharusnya, Jumat 8/8) jelas tidak bisa dilakukan di SSA. Pasalnya di hari yang sama,sang empunya SSA, Persiba Bantul juga wajib menjamu PSM Makassar dalam lanjutan Indonesian Super League (ISL) 2014.
Dimintai keterangan kemarin, Direktur Utama (Dirut) PT PIM Dwi Irianto mengatakan, mengundur laga satu hari agar bisa menggunakan SSA adalah langkah paling realistis. Sebab, berlaga di Bantul tentu akan menguntungkan dalam sisi finansial. Panpel tetap bisa mendapatkan pemasukan dari tiket pertandingan. Apalagi, cukup banyak warga Bantul yang mendukung PSIM. “Sejatinya sempat ada opsi main di MIS (Maguwoharjo International Stadium, Red) atau Stadion Sasana Krida, AAU. Namun kedua tempat inimemiliki handicap. MIS jelas markas PSS, sedangkan kalau di AAU kami tidak mungkin menggelar laga dengan penonton,” jelasnya.
Namun hingga berita ini diturunkan, manajemen serta panpel PSIM masih melakukan rapat. Belum ada keputusan final yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut. Namun yang jelas, masih ada beberapa opsi yang digodog.Kata pria yang akrab disapa Mbah Putih (MP) tersebut, opsi yang masih dipikirkan ialah tetap menggunakan Stadionb Mandala Krida. Pilihan ini muncul mengingat masih ada banyak tribun penonton yang dipakai. Tapi, dengan kondisi Mandala Krida yang sangat terbuka tentu dikhawatirkan panpel kesulitan nmengontrol penonton. Terlebih lagi ini adalah pertandingan dengan tensi sangat tinggi. “Menggunakan Mandala Krida juga menjadi salah satu opsi juga. Namun kami tentu harus memikirkan segala konsekuensinya,” imbuhnya.
Ketua Panpel PSIM Ricardo Putro Mukti Wibowo menegaskan di mana pun laga digelar, panpel PSIM menghimbau agar suporter PSStidak usah datang. Ini tentu agar suasana pertandingan tetap kondusif. Apa yang diputuskan panpel PSIM memang sangat masuk akal. Saat PSS menjadi tuan rumah di MIS akhir April lalu, laga berakhir dengan kericuhan. Ya, suporter PSIM yang datang berbondong-bondong ke MIS terlibat bentrokan dengan supporter Super Elang Jawa (Super Elja). “Kami tentu melarang supporter PSS untuk datang di mana pun pertandingan digelar. Ini jelas berkaitan dengan kondisi keamanan,” terang pria yang akrab disapa Edfo tersebut.Selain itu berbeda dengan MP, secara pribadi Edo lebih senang jika laga digelar di AAU. Sebab, selain cenderung lebih aman, panpel tidak perlu menggelontorkan dana besar. “Hanya saja kerugiannya kami tak bisa dapat pemasukan tiket,” sergahnya. (nes/din)