KETHOPRAK Ringkes Tjap Tjonthong kembali hadir dengan lakon yang segar. Kali ini masih bertempat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menghadirkan lakon Kotabaru Lunas Janjiku. Pementasan kali ini lebih istimewa, karena bertepatan dengan masa libur Idhul Fitri 1435 H.Meski mengambil masa pentas saat liburan, kursi merah di TBY tetap dipadati penonton. Bahkan jumlah penonton kali ini melebihi jumlah penonton pada setiap pementasan sebelumnya. Ini terlihat dari penuhnya kursi yang disiapkan penyelenggara.”Untuk pementasan hari pertama ini (1/8) kursi penuh, bahkan lesehan juga sama. Tentu ini menjadi penyemangat bagi kami dalam melakoni pementasan,” kata sang sutrada, Susilo Nugroho.Bersama Marwoto Kawer, pria yang akrab disapa Den Baguse Ngarsa ini menggarap lakon secara apik. Lakon kali ini masih segar karena mengambil latar belakang tahun 1945. Berbeda dengan lakon sebelumnya yang kerap mengambil latar belakang kerajaan Mataram.
Lakon kali mengisahkan perjuangan rakyat Jogja mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah yang diangkat sendiri bercerita tentang penurunan bendera Jepang di Tyookan Kantai. Gedung yang saat ini bernama Istana Kepresidenan Gedung Agung ini menjadi saksi heroik rakyat Jogjakarta pada 5 Oktober 1945.”Berawal dari maklumat Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII pada waktu itu. Maklumat ini menggugah semangat rakyat untuk mengusir prajurit Jepang dari Jogjakarta. Bahkan berkat maklumat ini, lahirlah kantong-kantong perjuangan rakyat di daerah,” katanya.Kantong ini, menurut Susilo, dijuluki sebagai laskar-laskar rakyat Mataram. Dalam perjuangannya, laskar ini lahir atas keguyuban. Bahkan menurutnya, laskar ini berdiri tanpa adanya seorang tokoh. Sehingga laskar bergerak atas kesadaran dan rasa keguyuban yang tinggi.Puncak perjuangan dari rakyat Jogjakarta ini adalah penurunan bendera. Di mana rakyat Jogja bersatu untuk menurunkan bendera Jepang. Dalam fragmen ini, Siti Ngaisah yang diperankan Cici Anjasmoro Masitoh menjadi penggerak.”Pada waktu itu, Siti Ngasiah bersama pemuda Jogja lainnya merangsek masuk ke Gedung Agung. Di sini, dia dengan berani menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan bendera Merah Putih,” tambah Susilo.
Proses penurunan bendera ini pun dikemas dengan fragmen yang berbeda, di mana saat salah seorang pejuang ingin menyobek bendera Jepang dilarang oleh Siti. Susilo menghadirkan fragmen ini sebagai pengingat pesan.Pesan ini adalah meski berjuang untuk kemerdekaan, tapi tetap dengan cara yang terhormat. Bendera merupakan simbol sebuah negara, sehingga apabila terjadi perusakan maka akan merusak hubungan negara ke depannya.”Risikonya membuat dendam pemilik bendera tersebut. Kisah ini sesuai kejadian nyata, di mana Siti Ngaisah adalah seorang pelajar muda. Perjuangan ini menginspirasi para pejuang lainnya,’ kata Susilo.Dalam naskahnya kali ini, Susilo juga menghadirkan kisah pertempuran Kotabaru. Laskar rakyat berusaha melucuti senjata tentara Jepang di markas Kotabaru. Dalam proses perundingan yang a lot, akhirnya pecah pertempuran yang menewaskan 21 pejuang Jogja. Salah satunya adalah Faridan yang diangkat dalam lakon ini. Bayu Saptama yang memerankan Faridan tampil heroik di barisan terdepan.”Pada waktu itu memang sangat minim komando, sehingga bergerak dengan kesadaran dan keguyuban. Banyak remaja dan pejuang muda yang gugur di medan pertempuran. Tapi, ini justru membangkitkan perlawanan yang lebih sengit,” kata Susilo.
Proses penulisan naskah diakui oleh pria kelahiran Jogjakarta 5 Januari 1959 ini sebagai yang paling rumit. Ia harus menggali data dan sumber secara mendalam. Sulitnya mencari data dan tokoh sejarah, menjadikan tantangan tersendiri untuk lebih semangat lagi.Peristiwa Kotabaru sendiri masih sedikit yang mengulas. Ini terlihat masih minimnya bukti-bukti sejarah yang memuat kisah ini. Bahkan dalam soal tokoh, Susilo mengaku mengalami permasalahan sendiri. Ia tidak menemukan tokoh utama peristiwa ini.Padahal, menurutnya, syarat sebuah naskah kethoprak adalah adanya tokoh sentral. Untuk menggantikan ini, Susilo mengemas naskah dengan cara yang berbeda. Tokoh utama dalam lakon ini adalah rakyat yang berjuang meski tanpa ada komando dari seorang pemimpin.”Kembali ke titik awal naskah, di mana gerakan rakyat ini berawal dari maklumat HB IX dan PA VIII. Tidak hanya rakyat Jogja saja, bahkan warga Tionghoa yang ada pada waktu itu juga turut berjuang bersama. Inilah bukti bahwa kekuatan rakyat memang besar,” katanya.Tak lengkap jika Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong hadir tanpa sebuah sentilan. Bentuk kritik yang hadir adalah kekompakan dari rakyat yang sifatnya accidental. Kompak saat benar-benar satu rasa dan memiliki misi utama. Namun setelah misi utama tercapai, munculah ego-ego individual.
Ini digambarkan saat Kamuna yang diperankan Susilo tergila-gila kepada Mimbasih yang diperankan Hargi Sundari. Ada pula kisah Sronto yang berambisi mendapatkan Ngatirah. Kedua kisah ini muncul saat perjuangan rakyat Jogjakarta berhasil.”Kompaknya itu seperti kecelakaan saat ada problematika bersama. Ego individual muncul saat masalah utama telah selesai. Sehingga muncul sebuah pernyataan opo perlu digaweke problem yo ben kompak,” katanya.Untuk mengangkat kisah ini Susilo dan timnya perlu waktu satu bulan. Meski terbilang singkat, latihan kali ini terbilang optimal. Proses dari awal hingga akhir tidak mengalami kendala. Kisah yang diangkat pun masih terbilang baru dan segar. Ini karena kisah pertempuran Kotabaru masih jarang dipentaskan. Pementasan kethoprak pada umumnya mengambil latar belakang era kerajaan. Bahkan yang paling baru adalah era perang Diponegoro tahun 1830.Tanggapan beragam pun disampaikan para penonton yang hadir. Istimewanya, penonton kali ini didominasi dari luar Jogja. Elya, salah seorang penonton asal Semarang mengaku kagum. Baginya, ini merupakan pengalaman pertama menonton kethoprak. Elya pun mengubah cara pandangnya tentang kesenian ini. Sebelumnya dirinya mengira pertunjukan kethoprak adalah hal yang membosankan.”Ternyata kethoprak bisa hadir dengan tampilan yang luwes dan segar. Meski tetap mengemas nilai sejarah dan kearifan lokal, tidak terlihat kaku. Tentu ini menjadi nilai hiburan yang lebih, terutama bagi penonton muda,” ungkapnya. (*/dib)