SAAT memperingati ulang tahun Paroki St Ignatius Magelang, sejumlah umat mewarnai dengan berbagai kegiatan. Ribuan umat Katolik merayakan puncak syukur ulang tahun ke-114 Paroki St Ignatius Magelang lewat aneka kegiatan. Adapun tema yang diambil, “Ayo Lestarikan Ciptaan” di Kompleks Gereja St Ignatius Magelang, kemarin (4/8).Ketua panitia HUT ke-114 Paroki St Ignatius Magelang Ferdinandus Jati mengatakan, rangkaian kegiatan yang dimulai sejak awal Juli lalu memang menonjolkan pelestarian lingkungan. Berbagai kegiatan, di antaranya dimulai kerja bakti oleh umat. Mereka membersihkan dan menata lingkungan gereja. Tidak ketinggalan dilakukan penyuluhan narkoba bagi generasi muda, pelepasan 114 ekor burung di puncak Bukit Tidar, malam tirakatan, dan saresehan. Acara ditutup dengan misa syukur dan pesta umat.
“Pada penyuluhan narkoba, panitia sengaja menghadirkan narasumber dr Ratna Dwi MSc Sp. KJ dari RSJ dr Soerojo Magelang. Penyuluhan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian ciptaan Allah yang paling tinggi, yaitu manusia. Caranya dengan mencegah umat, khususnya generasi muda terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba,” paparnya.Tidak lupa, Dewan Paroki bersama umat melepaskan 114 ekor burung dari berbagai jenis di puncak Bukit Tidar, dilanjutkan dengan syukuran dan buka puasa bersama warga sekitar Bukit Tidar. Saresehan umat dalam malam tirakatan di Panti Bina Bakti gereja St Ignatius memunculkan berbagai usul pelestarian lingkungan. Antara lain lewat mengurangi penggunaan kertas teks panduan misa, dekorasi dengan memanfaatkan barang bekas atau daur ulang. Juga, alternatif penggunaan pot tanaman hidup sebagai pengganti bunga potong yang sekali pakai. Termasuk ide menambah jumlah tempat sampah di kompleks gereja dan daur ulang penggunaan kertas di gereja.
Rangkaian HUT ke-114 ditutup Misa Syukur yang dipimpin Pastor Paroki St. Ignatius Magelang Rm FX Krisno Handoyo Pr didampingi Rm Aloys Triyanto Pr. Dalam homili misa, Rm Krisno mengatakan, melalui tema HUT “Ayo Lestarikan Ciptaan”, umat diajak semakin memiliki kerelaan hati. Yakni mencintai alam dan lingkungan sekitar. Sehingga terbentuk kebiasaan dan budaya melestarikan lingkungan hidup. “Pelestarian lingkungan ini tidak hanya semata-mata karena keprihatinan atas kerusakan lingkungan. Tetapi juga sebagai perwujudan iman pada Allah sang Pencipta Kehidupan,” jelasnya.Usai misa, acara dilanjutkan pesta umat yang disemarakkan dengan pentas musik dan tari-tarian serta pameran reptil dari Komunitas Reptil Magelang atau KOREM.(*/hes)