BANTUL – Lebaran selalu berperan meningkatkan permintaan barang dan jasa di masyarakat, yang mendorong kenaikan harga barang maupun jasa. Lonjakan harga pada saat lebaran berpengaruh pada tingkat kenaikan inflasi di sejumlah daerah termasuk DIJ.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ Bambang Kristianto menjelaskan pada Juli 2014 Jogjakarta mengalami inflasi sebesar 0,85 persen. Selain disumbangkan oleh kenaikan harga bahan makanan, salah satu faktor pendorong terjadinya peningkatan inflasi adalah kenaikan tarif tenaga listrik (TTL). “Pada Juli kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 1,22 persen dengan indeks 111,73. Angka ini lebih tinggi dibanding angka indeks bulan sebelumnya sebesar 110,38,” terang Bambang dalam Berita Resmi Statistik yang disampaikan di Kantor BPS DIJ, Senin (4/8).
Bambang memaparkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga memberikan andil positif terhadap inflasi diantaranya TTL yang naik 5,4 persen. Tarif tenaga listrik memiliki andil terhadap inflasi sebesar 0,21 persen. Sedangkan kelompok makanan yang mendorong terjadinya inflasi, jelas Bambang, terjadi pada daging ayam ras, kelapa, susu balita dan ikan. Daging ayam ras sendiri naik 7,74 persen dengan memberikan andil sebesar 0,08 persen. “Kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks sebesar 1,86 persen sehingga besaran indeks menjadi 122,49 relatif lebih tinggi dari sebelumnya mencapai 120,25,”terangnya.Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santoso mengatakan pihaknya tidak menduga kenaikan tarif listrik yang diberlakukan pemerintah turut menyumbang terjadinya inflasi. “Kami tidak menduga tarif listrik cukup besar mendorong inflasi. Kami menduga kenaikan inflasi dikarenakan kenaikan harga-harga,” katanya.
Meski begitu, sambungnya, pada Agustus ini Arief memprediksi TTL tidak memberi pengaruh signifikan terhadap kenaikan inflasi. “Karena kenaikannya bulan lalu untuk kedepan lebih stabil,” jelasnya.Sedangkan untuk kenaikan bahan makanan pada daging ayam ras, Arief mengatakan, kenaikan mulai terlihat sejak akhir Ramadan. Menurutnya kenaikan tersebut disebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan ke Jogja. “Banyaknya wisatawan yang datang ke Jogja mengakibatkan hotel dan restoran penuh. Akibatnya permintaan terhadap daging ayam ikut naik,” jelasnya. (bhn/ila)