BAGI sebagian warga DIJ, pohon beringin di Alun-Alun Kidul memiliki cerita yang menarik. Di tempat itu, banyak warga yang melakukan tradisi unik. Mulai masangin atau berjalan masuk di antara dua beringin dengan mata tertutup sampai menggelar topo bisu di malam 1 Suro.Tapi, soal terbakarnya ringin di selatan Siti Hinggil itu, pihak keraton memilih tak menjelaskan sisi filosofisnya. Keraton lebih melihat jika pohon tersebut merupakan salah satu dari peninggalan leluhur yang telah berusia ratusan tahun.”Saya tidak berbicara soal sisi filosofisnya. Yang jelas, pohon tersebut sudah berusia ratusan tahun. Sayang kalau mati,” tutur Penghageng Keraton Jogja GBPH Prabukusumo di sela syawalan di kantor Kepatihan, kemarin.
Adik Raja Keraton Sultan HB X ini menjelaskan, dengan kondisi yang sudah berusia tua, sangat disayangkan jika ringin kurung itu akhirnya mati. Sebab, ringin tersebut selama ini memang menjadi ikon dari keraton.Selain itu, dengan peristiwa terbakarnya ringin ini, keraton melihat sebagai pelajaran untuk lebih bisa merawat semua peninggalan leluhur. Selama ini semua pepohonan memang perawatannya baru setahun sekali saja. “Dipangkas supaya bentuknya tetap melingkar,” lanjutnya.Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIJ ini menjelaskan, pelajaran lain adalah untuk lebih memperketat pengamanan ringin tersebut. Karena di dalam pagar yang melindungi ringin, selama ini menjadi tempat pemulung menyimpan barang-barangnya. Dugaan kuat barang-barang tersebut yang mempercepat api membakar dedaunan dan ranting pohon ringin. “Ke depan akan kami buatkan pintu besi yang bisa dikunci. Ini sudah saya sampaikan ke Gusti Hadi (KGPH Hadiwinoto, penghageng yang mengurusi pohon beringin tersebut),” tambahnya.
Api yang melalap dedaunan ringin kembar itu juga belum diketahui akibatnya. “Tadi pagi (kemarin) saya lihat memang belum layu. Tapi kami lihat tiga hari ke depan. Kalau layu, berarti mati. Semoga saja tidak,” ungkapnya.Kerabat Keraton Jogja KRT Jatiningrat menghimbau kepada masyarakat untuk tidak percaya hal mistis terkait peristiwa itu. Termasuk mengaitkan dengan datangnya musibah yang akan terjadi.”Keterlaluan itu. Nggak ada apa-apa kok. Tidak usah percaya dan nggak usah khawatir dengan itu. Jangan terlalu dihubung-hubungkan,” ujar KRT Jatiningrat.Kendati demikian, KRT Jatiningrat tak menampik jika Sang Pencipta mengirimkan peringatan kepada makhluknya. Sedangkan kejadian ini, ia meminta kepada masyarakat dapat cerdas menyikapi peristiwa dan kejadian.”Dulu memang pernah terjadi kebakaran. Hanya saja tidak menutup kemungkinan Allah memberi tanda dengan berbagai cara. Kita sebagai manusia juga harus cerdas. Jangan semua jadi keyakinan akan terjadi sesuatu, nanti malah ditertawakan orang,” tegasnya.
Ia hanya berpesan, peringatan Tuhan kapan saja bisa terjadi. Sedangkan manusia sebagai mahluk hanya bisa berhati-hati dalam bertindak dan bersikap. “Allah sering memberi tanda kepada manusia untuk hati-hati.Semua itu juga korelasi dengan kelakuan manusia,” jelasnya.Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Jogja Subagyo mengatakan, pohon beringin sisi timur terbakar sekitar pukul 19.45 . Tim pemadam kebakaran datang ke lokasi sekitar 10 menit kemudian setelah menerima informasi dari frekuensi 258.Subagyo mengatakan, saat pemadaman di dalam benteng masangin yang mengitari pohon beringin itu memang dipenuhi barang rongsokan. “Di sekitar pohon beringin yang terbakar memang banyak barang rongsokan,” ungkapnya. (*/laz)