“WAH, kalau subsidi dicabut, petani kelimpungan. Ongkos produksi bisa lebih tinggi dari hasil panen,” ungkap Warjono, 55, petani di Ngaglik kemarin. Warjono mendengar wacana penghapusan pupuk secara getok tular antar sesama petani. Kendati begitu, dia belum tahu pasti soal wacana itu.Salah seorang produsen pupuk organik, Huda T Y membenarkan hal tersebut. Menurut Huda subsidi bakal distop untuk kebutuhan dua bulan, November dan Desember. Keresahan warga dinilai wajar mengingat akhir tahun ini mulai masuk musim tanam. “Saya dengar nggak akan ada penambahan alokasi. Itu bisa berakibat melonjaknya harga pupuk karena tak ada pupuk bersubsidi yang beredar,” ungkapnya.
Huda mengatakan, subsidi pupuk kimia dan organik mencapai 7,5 juta ton dari total kebutuhan 9 juta ton per tahun. Menurut Huda, untuk wilayah Sleman ada kekurangan hingga 2 ribu ton. Usulan tambahan ke pusat tak disetujui dengan alasan efisiensi. “Konsekuensinya harga produksi padi akan melonjak. Itu pasti,” katanya.Huda memprediksi harga pupuk akan naik lebih dari dua kali lipat. Untuk organik sekitar Rp 1.700 per kilogram. Padahal, pupuk subsidi hanya Rp 500 per kilogram. Pupuk Ponska NPK yang bersubsidi hanya Rp 2.300 per kilogram. Tanpa subsidi bisa menjadi Rp 4.900 per kilogram.
Demikian pula dengan urea yang dengan subsidi hanya Rp 1.600 per kilogram, non subsidi menjadi Rp 5 ribu per kilogram. Za dari Rp 1.400 menjadi Rp 2.900 per kilogram. “Yang jelas semua pasti melonjak. Petani pasti menjerit,” lanjut warga Turi itu. Huda menghitung secara matematis. Kerugian petani disebabkan sebagian besar hanya memiliki atau mengolah lahan dibawah setengah hektare. Produksi biaya yang tinggi tak memungkinkan bisa seimbang dengan panen. Huda memperkirakan, untuk mencapai break-even point (BEP) saja butuh lahan sekurang-kurangnya dua hektare.
Huda khawatir kondisi itu justeru mendorong petani untuk menjual sawah demi mencukupi kebutuhan keluarga. Meski ada aturan tentang alihfungsi lahan, Huda mengklaim, pemerintah tak bakal kuasa melarang petani menjual sawah kepada pengembang perumahan atau pertokoan. “Solusinya, pertahankan subsidi secara penuh. Syukur-syukur tahun depan ditambah alokasinya,” harapnya.(yog/din)