HAL – hal kecil di alam semesta yang terkadang tidak dipedulikan, justru menjadi sumber inspirasi yang dapat dieksplorasi. Demikian halnya bagi Bramanta Wijaya. Baginya, apapun bisa menjadi insprasi, meskipun itu sesuatu yang kecil dan jarang dihiraukan orang. “Filth to Ashes, Flesh to Dust, itulah judul yang saya angkat untuk karya saya kali ini,” ujarnya dalam ajang Jogja Fashion Week 2014 belum lama ini.
Inspirasi desainer asal Semarang ini mengangkat dari ungkapan ‘Sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu’ yang dituangkan dalam konsep warna yang menjadi satu rangkaian. Seperti merah, pink kelabu, abu-abu dan putih. Dimana warna-warna tersebut digambarkan sebagai warna kehidupan. Semua dituangkan dalam rancangan gaun malam dan cocktail yang cantik, elegan dan memesona.
Konsep permainan warna cukup matang diperlihatkan oleh Bramanta. Sehingga setiap gaunnya memiliki pesona tersendiri yang dikuatkan oleh warna yang diangkat. Warna merah misalnya, memberikan kesan berani dan anggun. Sedangkan, untuk koleksinya yang berwarna putih lebih terkesan elegan.
“Meski bermain warna, semua saya rancang dalam gaun malam yang sederhana tanpa banyak aplikasi,” ujarnya.Paduan siluet klasik dan modern ditampilkan dalam bentuk sackdress dan backless yang dirancang dengan permainan gaya. Seperti A-line dan empire yang bentuknya ketat di bagian payudara sampai pinggang atas, namun longgar dan jatuh dibagian bawah. “Dari dulu saya memang konsern pada bentuk-bentuks sederhana, namun senang bermain warna yang menjadi kekuatan dari setiap koleksi saya. Sehingga pesona gaun itu akan melengkapi kecantikan perempuan yang memakainya,” ujar Bramanta. (dya/ila)