JOGJA – Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar pentas ketoprak kolosal hari Sabtu (9/8) dan Minggu (10/8) mendatang. Pementasan kali ini mengangkat lakon Sumunaring Surya ing Gagat Rahina karya SH Mintardjo. Uniknya naskah ini akan dihadirkan dalam wujud ketoprak konvensional dan eksperimental.Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru mengungkapkan pementasan ini sangatlah penting. Dimana mampu melihat perkembangan kesenian ketoprak di Jogjakarta. Apalagi ketoprak ini dihadirkan bersanding dalam gaya yang lawas dan baru.
“Bukan membenturkan tapi saling melihat antara generasi senior dan muda. Tentunya menjadi khazanah yang menarik dimana mampu melihat perkembangan ketoprak. Harapannya tentu agar kesenian ini tetap langgeng dan berkembang,” kata Diah saat jumpa pers di ruang seminar TBY, Senin (4/8) lalu.Menghidupkan pementasan ini, TBY menggandeng sejumlah seniman ketoprak. Naskah Sumunaring Surya in Gagat Rahina akan dibawakan oleh Susilo Nugroho. Bersama tim sutradara lainnya seperti Widayat, Bambang Paningron, Nano Asmorodhono, Puntung CM Pudjadi dan Toelis Semero akan menggarap versi konvensional.
Sedangkan untuk eksperimental digarap oleh Ari Purnomo, RM Altiyanto Hermawan, Anter Asmaratedja, Herwiyanto, Gondol Sumargiyono dan Herry Limboex. Tim ini akan menggarap naskah yang sama dalam cerita bertajuk Lingsir. “Tentunya ini akan menjadi dua sudut pandang yang menarik. Karena masih berpegangan pada satu naskah yang sama. Representasi khususnya penyajian akan berbeda bagi tim kami maupun generasi muda di eksperimental,” kata Susilo.Altiyanto mewakili ekseperimental mengaku sangat tertantang. Terlebih mengadirkan suasana dan rasa baru dalam kesenian ketoprak. Untuk lebih mewarnai, Altiyanto dan timnya mengusung tim tari, tata cahaya, busana hingga efek digitalisasi.
Meski menemui beberapa tantangan namun Altiyanto dan timnya tetap optimistis. Terlebih karyanya kali ini akan bersanding dengan cerita konvensional. Eksperimental diakuinya akan tetap mempertahankan pakem-pakem yang dimiliki oleh ketoprak. “Menjadi tantangan bagi kita untuk melestarikan kesenian ketoprak. Di luar sana masih banyak yang tertarik untuk belajar. Sehingga kesenian ketoprak akan punah itu hanya mitos. Tentunya pengemasan yang baru diperlukan,” kata Altiyanto.Pementasan yang digelar selama dua hari ini menggunakan dana keistimewaan (danais). Pementasan ini untuk mengoptimalkan penggunaan danais sebagai upaya pelestarian seni budaya di Jogjakarta. (dwi/ila)