MAGELANG – Awak angkutan kota (angkot) di Kota Magelang menagih janji Wali Kota Sigit Widyonindito untuk menjadikan jasa transportasi yang ada sebagai pengganti kendaraan dinas. Sebab, sudah setahun lebih usulan disampaikan, hingga kini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang.Ketua Kopata Kota Magelang Darmanto Asriyanto mengatakan, dari waktu ke waktu jumlah penumpang angkot terus mengalami penurunan. Bahkan, momen arus mudik Lebaran justru dirasa sepi, lantaran menjadi libur panjang anak sekolah. “Memang dominasi penumpang adalah anak sekolah. Kami tidak terlalu kena dampak arus mudik ini. Justru malah sepi,” ungkap Darmanto kemarin (5/8).
Menurutnya, penurunan load factor mulai terjadi sejak 2000-an. Begitu pula pada tahun berikutnya, jumlah warga yang menggunakan jasa transportasi angkot cenderung berkurang. Hal itu diyakini karena pengaruh kendaraan pribadi yang semakin merebak dan mudahnya akses komunikasi melalui telepon genggam. “Sekarang untuk mencari satu penumpang saja sulit bukan main. Kalau dulu, sembari keliling langsung bisa dapat penumpang,” tuturnya.Darmanto berharap, aksi wali kota beserta jajarannya yang menjajal angkot jalur satu pada saat pemeriksaan persiapan mudik belum lama ini bisa menggugah masyarakat untuk menggunakan jasa angkutan umum. Lebih lagi, jika wacana pejabat “ngangkot” bisa direalisasikan. “Harapannya ya bisa seminggu sekali pejabat itu naik angkot. Supaya membantu awak angkutan umum yang sudah sepi. Ini juga untuk membangkitkan masyarakat agar kembali ke angkutan umum,” tegasnya.
Terkait usulan pada wali kota dan pejabat Pemkot Magelang menjajal angkot sepekan sekali, lanjutnya, sudah dilakukan sejak tahun lalu. Pemkot sempat berjanji mengkaji wacana tersebut. Namun belum terealisasi hingga kini. “Rencananya seminggu sekali, tapi tidak tahu sampai sekarang belum dilaksanakan,” katanya.Salah satu sopir angkot jalur dua, Kholidi, 45 membenarkan, saat ini sangat jarang angkot bisa terpenuhi penumpang umum. Warga asal Tegalrejo, Kabupaten Magelang ini mengaku hanya bisa memburu penumpang kalangan pelajar, meski tarifnya lebih murah 50 persen daripada penumpang reguler. “Karyawan nyaris tidak ada. Perbandingannya kalau pelajar 70 persen dan 30 persen itu umum. Pelajar pun jarang sekali penuh. Karena biasanya diantar-jemput. Jadi memang sudah semakin sulit,” ungkapnya.Kholidi juga berharap usulan pejabat naik angkot bisa terealisasi. Ia ingin Pemkot menggunakan jasa angkot di tengah persepsi masyarakat yang memandang sebelah mata pada jenis angkutan tersebut. Sehingga jasa angkot kembali bergeliat dan para sopir tidak terlalu merugi. “Sangat setuju sekali, kalau pejabat naik angkot. Ya harapannya jangan hanya seminggu sekali. Tetapi lebih diseringkan, agar ada tambah pemasukan bagi sopir-sopir,” katanya.(dem/hes)