JOGJA – Keberadaan ekspor mebel dan kerajinan di DIJ memilki peranan besar dalam perdagangan. Dengan nilai ekspor mencapai USD 30 juta, ekspor mebel dan kerajinan DIJ berada diperingkat ketiga setelah tekstil dan sarung tangan.Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Ida Bagus Riyadi, kemarin (5/8). Riyadi memprediksi sampai dengan akhir tahun ini permintaan terus meningkat, terutama dari negara-negara yang ada di benua Eropa, Afrika dan Asia. “Perekonomian Amerika dan Eropa sudah kembali membaik, ini diiringi dengan permintaan mebel DIJ yang mengalami kenaikan. Bahkan dalam kondisi perekonomian ekstrem pun kami masih bisa ekspor,” jelas Riyadi.
Riyadi mengatakan peningkatan ekspor mebel dari DIJ perlu kebersamaan semua pihak. Hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah terus melakukan promosi. Bahkan, sambungnya, ketika perekonomian dunia mengalami kelesuan promosi harus terus digalakkan. Ini disebabkan buyer mebel selalu bergerak dan mencari produk-produk baru. “Perajin harus terus meningkatkan dan menjaga kualitas produknya. Sebab buyer yang melihat berbagai even pameran memiliki keinginan untuk melihat produksinya secara langsung,” terangnya.Sementara Ketua DPD Asosiasi Meubel dan Kerajinan (Amkri) DIJ Indah Rahayu Indra mengatakan pihaknya terus melibatkan perajin UKM di berbagai even. Selama ini, even-even masih didominasi oleh eksportir. “Kerja sama ini akan terus dilakukan baik antara perajin UKM maupun eksportir. Tentunya harus dengan dukungan pemerintah juga,” jelasnya. (bhn/ila)