JOGJA– Polda DIJ untuk kesekian kalinya kembali berjanji bakal menuntaskan pengusutan kasus meninggalnya wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin.Wartawan Bernas itu dianiaya orang tak dikenal pada 13 Agustus 1996. Tiga hari kemudian, Udin meninggal setelah dirawat intensif di RS Bethesda Jogja. Namun hingga 18 tahun kasus itu berlalu, polisi tak kunjung mampu menangkap pelaku pembunuhan Udin.”Kami tidak pernah memiliki pemikiran menghentikan penyidikan kasus Udin. Tak akan ada surat perintah penghentian penyidikan (SP3),” ucap Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda DIJ Kombes Karyoto.Pernyataan Karyoto itu dikemukakan saat mendampingi Kapolda DIJ Brigjen Pol Oerip Subagyo ketika mengadakan silaturahmi dengan jajaran PWI Cabang Jogja. Pertemuan berlangsung di gedung PWI Jalan Gambiran Jogja, kemarin (5/8).
Menurut Karyoto, penyelidikan atas perkara Udin terus dilakukan. Mantan Kapolresta Belerang Provinsi Kepulauan Riau itu mengaku siap menjalin kerja sama dengan PWI dan elemen masyarakat lainnya.Ia bahkan ingin dibentuk tim bersama yang fokus untuk penuntasan kasus Udin. “Kita bisa sering bertemu dan saling bertukar informasi,” kata mantan penyidik KPK ini.Kembali soal kasus Udin, Karyoto menilai menjadi tantangan tersendiri bagi jajarannya. Ia ingin dapat terungkap dan pelakunya dibawa ke pengadilan. “Kalau kita bisa tangkap pelakunya, bakal menjadi prestasi,” paparnya.Dengan begitu, Karyoto menegaskas tak satupun niat dari polda menghentikan penyidikan perkara Udin. Ia tetap akan melanjutkan proses hukum kasus tersebut. “Jangan pernah berharap kasus Udin kami hentikan,” ulangnya.
Berbeda dengan Karyoto, Oerip dalam pertemuan itu tak banyak memberikan keterangan. Ia hanya berjanji akan mencermati ulang perkara tersebut. “Kami akan perhatikan semua masukan masyarakat. Termasuk yang berasal dari forum silaturahmi ini,” kata mantan direktur reskrim Polda Jawa Timur ini.Oerip juga menegaskan akan memberikan perlindungan terhadap wartawan dalam menjalankan profesinya. “Tidak boleh ada wartawan terancam karena melaksanakan tugasnya,” tutur jenderal bintang satu ini.Selain Karyoto, Oerip tampak didampingi Direktur Lantas Polda DIJ Kombes Pol Nasri Wiharto dan Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti. Dari jajaran PWI hadir antara lain ketuanya Sihono Harto Taruno, wakil ketua bidang hukum dan pembelaan wartawan Hudono, serta beberapa wartawan dari media cetak dan elektronik.
Di depan Kapolda, Hudono meminta penjelasan perkembangan penuntasan kasus Udin. Sebab, beberapa pihak ada yang berpendapat masa kedaluwarsa perkara pidana adalah 18 tahun. “Kasus Udin ini pada 16 Agustus 2014 atau tinggal sepuluh hari lagi, genap 18 tahun. Apakah ini akan memasuki masa kedaluwarsa,” ujarnya.Terpisah, Kepala Biro Humas Jogja Police Watch (JPW) Baharudin Kamba menilai, janji maupun statemen Kapolda dan Direskrimum sudah terlalu sering diucapkan. “Setiap ganti pejabat polda omongan seperti itu,” kritiknya.Bahar mengatakan, berbagai upaya mendorong penuntasan kasus Udin telah dilakukan. PWI dan JPW pernah mengajukan gugatan praperadilan. Namun gugatan itu tak diterima pengadilan di tingkat pertama dan banding. Belum lagi upaya lain seperti menyurati banyak lembaga negara mulai presiden, DPR, Komnas HAM, Ombudsman RI, Kapolri, dan lainnya.”Kami tengah mengajukan upaya hukum luar biasa, kasasi dan peninjauan kembali. Berbagai upaya telah kita lakukan. Tinggal mengadukan ke malaikat saja yang belum,” sindirnya.Ketimbang kasus Udin terus menjadi polemik selama 18 tahun tanpa tahu ujung pangkalnya, JPW mendesak polda agar menghentikan pengusutan kasus Udin.”Hentikan, dan tutup demi hukum. Meski pahit harus kita lalui. Polda harus bersedia melakukannya,” desak Bahar.Dikatakan, desakan itu disampaikan karena selama 18 tahun polisi tak kunjung mampu mengungkap kasus Udin. Bahkan setelah praperadilan diputus pada Januari lalu, selama tujuh bulan ini tak ada perkembangan berarti penyelidikan kasus Udin. “Perkembangan terbaru gugatan Dwi Sumaji alias Iwik lewat LPH Jogja dikabulkan PN Sleman. Itu pun polda nggak mau terima dan memilih upaya banding,” sesalnya. (eri/din)