SENYUMNYA mengembang saat Radar Jogja berkunjung ke kantor LPK Tari Natya Lakshita di Godean, Sleman akhir Juli lalu. Meski sibuk pria pemilik nama asli Didik Hadiprayitno tetap menyempatkan diri untuk berbincang. Semangatnya pun berapi-api saat bercerita tentang dunia tari.Baginya dunia seni tari tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Kegigihannya dalam melestarikan seni tari ini mengundang kekaguman seorang professor asal Jepang, Madoka Fukuoka. Bersama seorang fotografer asal Tokyo, Hitoshi Furuya dirinya mengabadikan sosok Didik Nini Thowok ke dalam sebuah buku. “Keduanya merupakan sahabat saya sejak awal tahun 2000. Buku ini memuat mulai dari proses penciptaan, pementasaan dan ragam karya saya. Semuanya disajikan dalam tulisan kanji Jepang,” kata pria kelahiran Temanggung, 13 November 1954 ini.
Didik mengungkapkan untuk menghasilkan buku ini perlu waktu yang panjang. Proses diawali dengan perkenalan dan bergaul secara langsung. Dalam kesempatan ini, Didik mengungkapkan rasa kagumnya atas riset yang dilakukan.Hal-hal terkecil yang dialami Didik turut diulas dalam buku biografi ini. Bahkan dalam melakukan pendekatan, sang penulis menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya. Tentunya bagi Didik ini adalah hal yang menyenangkan.Meski bukan hal baru baginya dijadikan sebagai objek penulisan, tapi ada kesan berbeda. Dimana data yang diolah benar-benar dalam dan objektif. Sehingga informasi yang disajikan sesuai fakta dan tidak menyimpang dari seorang Didik Nini Thowok. “Benar-benar telaten dalam menggarap tulisan ini. Jadi sebelum digarap terlebih dahulu bertanya untuk saya setujui. Sehingga tidak melenceng dan benar-benar merepresentasikan diri dan karya saya,” katanya.Dalam buku ini, selain tulisan juga memajang ragam foto tarian karyanya. Sebut saja Dwi Muka, Dewi Sarak Jodag dan beberapa tarian lainnya. Foto-foto karya Hitoshi Furuya tersaji secara apik. Bahkan Didik pun kagum terhadap jepretan Hitoshi ini.Dalam mendokumentasikan karya Didik, Hitoshi memiliki treatment khusus. Salah satunya adalah memantau karya-karya yang dimiliki Didik. Hitoshi bersama Madoka diakui oleh Didik kerap mengikuti kemanapun Didik berkarya. “Totalitas untuk menulis biografi agar mengetahui karakter saya. Mulai dari gaya, karakter dan cerita dari tarian ini. Riset ini dilakukan lebih dalam agar buku yang ditulis memiliki soul yang dalam,” kata Didik.Uniknya Didik tidak bisa membaca buku karya Madoka ini. Dikarenakan tulisan yang digunakan menggunakan huruf Kanji khas Jepang. Sehingga Didik hanya bisa menikmati foto-foto yang disajikan dalam buku ini.
Meski begitu Didik telah mengerti sepenuhnya isi dari buku karya temannya ini. Sebelum dicetak ke dalam huruf kanji, Didik telah menerima print kasarnya. Cetak prototype ini tersaji dalam bahasa Inggris. Tujuannya agar Didik lebih mudah dalam melakukan revisi tulisan. “Buku ini hanya diedarkan di Jepang karena bahasa yang digunakannya. Rencana kedepan ingin diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tentunya dengan seizin dari sang penulis Madoka,” katanya sambil menunjukkan buku karya Madoka.Dalam buku ini, selain foto dan tulisan juga tersaji sebuah video dokumentasi. Video ini berisi rekaman saat Didik menampilkan beberapa karya tariannya. Tentunya ini melengkapi buku biografi yang mengulas maestro tari ini.Bicara tentang video dokumentasi, Didik bercerita pentingnya hal ini. Baginya sebuah karya sangat penting untuk didokumentasikan. Sayangnya ini masih jarang dilakukan oleh beberapa seniman di Indonesia.Video dokumentasi tidak hanya bersifat sebagai dokumenter semata. Menurut Didik video juga merupakan sebuah pustaka. Dimana mampu melengkapi data dari sebuah buku. Kelebihannya dapat menampilkan karya secara utuh dan dapat terlihat secara fisik.
Didik menunjukkan sebuah boks berisi hard disk eksternal miliknya. Terhitung ada 18 hard disk dengan total memori 9.000 GB. Setiap hard disk ini menyajikan video dokumentasi karya-karyanya maupun kesenian lainnya. “Sebagai arsip bagi semua seniman dalam berproses. Fungsi lain dapat menjadi pustaka yang bisa dinikmati orang lain. Sifatnya sangat penting terutama sebagai harta karun bagi anak cucu kita,” katanya.Didik berujar dokumentasi ini dilakukan atas kesadaran pribadi. Untuk membuatnya ini tidak perlu menunggu dinas terkaitnya. Baginya mendokumentasikan sebuah karya merupakan tanggungjawab semua pihak. “Terlebih sebuah karya seni merupakan salah satu kekayaan suatu bangsa. Dokumentasi tidak perlu alat yang mahal, handphone pun bisa dimanfaatkan untuk merekam,” terangnya. (*/ila)