JOGJA – Aksi unjuk rasa memperingati pepera (penentuan pendapat rakyat) oleh mahasiswa asal Papua di DIJ siang kemarin (6/8), berujung bentrok. Itu, setelah aksi mereka dihadang ormas Paksi Katon di Jalan Kusumanegara. Akibat bentrok tersebut, tiga anggota Paksi Katon mengalami luka ringan.Menurut keterangan saksi, semula massa mahasiswa Papua hendak berunjuk rasa di titik nol kilometer. Saat melintas di Jalan Kusumanegara, mereka dihadang ormas Paksi Katon.Di lokasi itu, kedua pihak sempat melakukan perundingan dengan aparat agar demonstran bisa melanjutkan aksinya ke titik nol. Tapi lantaran tak kunjung ada kesepakatan, situasi pun memanas. Bentrok pun tak terhindarkan antara massa mahasiswa Papua dengan Paksi Katon.
Dari pantauan di lapangan, sejumlah orang membawa kayu dan tongkat rotan. Meski bentrok tak berlangsung lama, tiga anggota Paksi Katon mengalami luka. Polisi pun sempat melepaskan tembakan peringatan satu kali ke udara untuk meredam kericuhan.Setelah situasi mulai terkendali, massa dari mahasiswa Papua dan aparat pun kembali berunding. Akhirnya disepakati, rombongan mahasiswa Papua dibolehkan melanjutkan aksi mereka. Tetapi, dengan pengawalan ketat dari kepolisian.Adapun tiga anggota ormas Paksi Katon yang mengalami luka adalah Mugiyono, Barjiman, dan Miftahul Jinan. Mugiyono mengalami luka pada pelipis kiri akibat lemparan batu, Barjiman luka pada hidung setelah terkena pukulan kayu, dan Miftahul Jinan luka di bagian bahu kiri akibat terkena sumpit yang berisi tulang ikan.Ketua Paksi Katon Muhammad Suhud mengatakan, anggota yang terluka sempat dilarikan ke rumah sakit. Kendati demikian, luka yang diderita ternyata tidak parah sehingga mereka langsung bisa pulang.”Sudah pulang Mas, tadi hanya diperiksa ke rumah sakit. Ada yang dijahit kepalanya, yang kena sumpit juga diobati,” kata Suhud kepada Radar Jogja kemarin.
Suhud menegaskan, bentrok tak terhindarkan setelah aparat melakukan pembiaran. Menurut dia, aparat tidak mengambil sikap tegas. Lebih dari itu, ketika terjadi bentrok antarkedua kelompok, polisi menahan anggota Paksi Katon untuk tidak memukul. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi kelompok satunya. “Itu dibiarkan saja kalau mereka yang mukul. Giliran kita mau mukul dihalangi polisi, ditahan-tahan,” ujarnya.Menurut informasi, aksi mahasiswa Papua kemarin memperingati hari terkahir Pepera yang jatuh pada 2 Agustus 1969. Kata mereka, pada saat itu, dari 809.337 orang Papua yang memiliki hak pilih, hanya diwakili 1.025 orang yang sebelumnya sudah dikarantina dan cuma 175 orang yang memberikan pendapat.Mereka juga menilai musyawarah untuk mufakat dilakukan guna melegitimasi Indonesia untuk melaksanakan Pepera yang tidak demokratis, penuh teror, intimidasi, dan manipulatif serta adanya pelanggaran HAM berat. (fid/din)