JOGJA – Bisnis pariwasata di Indonesia khususnya DIJ pengelolaannya terancam oleh monopoli asing. Hal ini dapat dilihat dari semakin membanjirnya investor asing dalam menginvestasikan dananya di sektor pariwisata.Hal tersebut disampaikan oleh praktisi pariwisata, Suhendroyono ditemui di kantornya di Stipram Jogjakarta, Rabu (6/8). “Mereka mengetahui peluang bisnis sektor pariwisata Indonesia sangat besar. Makanya saat ini di Jogja saja mereka sudah mulai berani berinvestasi membangun hotel-hotel berbintang,” terangnya.Menurut Suhendroyono, pelaku pariwisata selama ini berjalan dan berjuang sendiri karena kurangnya dukungan dari pemerintah. Meski memiliki kementerian yang menaungi sektor pariwisata, hanya saja belum ada keseriusan untuk membuat terobosan sebagai upaya membangkitkan bisnis pariwisata. “Buktinya kepala dinas pariwisata yang benar-benar berkompeten di pariwisata jumlahnya bisa dihitung dengan jari,” jelas pria yang menjabat sebagai Himpunan Penyelenggaran Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia.
Kondisi tersebut, jelasnya, justru mendatangkan kekhawatiran tersendiri bagi dunia pariwisata. Termasuk bagi penyelenggara pendidikan pariwisata di Jogjakarta. “Jika kita tidak memulai mengelola semua potensi itu, bisa jadi suatu saat pengelola pariwisata bukan lagi bangsa sendiri. Maka dari itu peningkatan SDM pariwisata wajib ditingkatkan melalui kampus-kampus,” urainya.Di DIJ sendiri, pariwisata terutama sektor perhotelan selalu memberikan andil positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Diungkapkan oleh Kepala BPS DIJ Bambang Kristianto pada triwulan kedua tahun 2014 sektor pariwisata terdiri dari hotel, perdagangan dan restoran memberi andil positif terbesar. Sedangkan laju pertumbuhannya masing-masing sebesar 5,80 persen dan 6,49 persen. “Kegiatan pariwisata DIJ seperti perhotelan dan restoran menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan,” terangnya. (bhn/ila)