PURWOREJO – Wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan iklim atau cuaca. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena yang memengaruhi iklim di Indonesia di antaranya El Nino dan La Nina, Dipole Mode, dan Sirkulasi Monsun Asia-Australia. “Indonessia juga berada di daerah pertemuan angin antar-tropis (Inter Tropical Convergence Zone). Akibatnya, saat ini bisa dikatakan musim kemarau basah, kemarau yang masih diselingi hujan beberapa saat,” terang Drs Boedi Hardjono, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo, (6/8).
Tidak hanya hujan, tiupan angin kencang juga dimungkinkan bisa terjadi di saat musim kemarau basah. Angin kencang yang melanda Jogjakarta kemarin lusa, besar kemungkinan juga salah satu dampak musim kemarau basah. “Kalau di Purworejo bisa terlihat di wilayah pesisir pantai, angin kencang memicu gelombang tinggi dan berbahaya bagi nelayan yang ingin turun melaut. Saya mengimbau nelayan jika cuaca tidak memungkinkan jangan memaksakan diri turun melaut, berbahaya,” ungkapnya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo Hardoyo mengatakan belum ada laporan atau permohonan droping air. Pihaknya sudah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan. “Kami juga sudah melakukan pendataan. Bahkan sudah terangkum sejak Juli 2014. Jika ada yang kesulitan mendapatkan air bersih, segera melayangkan surat ke BPBD,” katanya.BPBD masih memiliki stok air bersih 400 tangki. Jika jumlah itu masih kurang, Bakorwil II juga sudah menyiapkan 1.500 tangki. “Jika itu juga masih kurang, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sudah menyiapkan pos anggaran dana tak terduga untuk kabupaten yang membutuhkan,” katanya. (tom/iwa)