MAGELANG – Hak kepemilikan kios nomor 1 Pasar Rejowinangun masih dalam sengketa pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Magelang. Namun, pemilik Toko Mas Mustika Gold Magelang (MGM) seakan tidak memperdulikan hal itu. Buktinya, toko yang menghadap Jalan Mataram tersebut sudah melakukan pemasangan papan nama toko besar-besaran. Tidak hanya itu, pemilik sudah mengoperasikan toko tersebut.Pemilik MGM Slamet Santoso menegaskan, berani membuka kios tersebut dan memasang papan nama toko besar-besaran. Langkah tersebut seakan tidak mempedulikan atas gugatan perdata yang dilakukan Pemilik Toko Mas Gatotkoco Herry Chandra dan Sri Sulistiowati ke PN Magelang soal kios tersebut.Saat dikonfirmasi soal keberadaan kios yang tengah menjadi subjek gugatan perdata di PN Magelang, Slamet Santoso mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemkot Magelang soal hal tersebut.”Kita dulu jualan di situ. Tanahnya ya itu. Kemudian ada kebakaran, pasarnya dibangun lagi. Kita tanya pemerintah, melalui DPP (Dinas Pengelolaan Pasar), kios kita yang mana? Kemudian ditunjukkan kiosnya, ya kios nomor 1 tersebut. Ya sudah, setelah bayar ke investor, otomatis ya kita tempai buat jualan,” tegas Slamet saat ditemui di salah satu cabang Toko Mas Mustika di Jalan Mataram Nomor 23 Kota Magelang, kemarin (6/8).
Slamet mengaku, pihaknya sempat tepo-tepo dengan adanya gugatan Herry Chandra yang pertama.”Dari dulu memang sudah saya ingin buka. Cuma nunggu (keputusan PN dulu, Red). Ya tepo-tepo aja. Kita yo menghargailah,” ujarnya.Pria yang juga ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Magelang ini menegaskan, pihaknya sudah lama melakukan pelunasan kios dengan investor pembangunan Pasar Rejowinangun. Yaitu, PT Putra Wahid Pratama.”Belinya ke investor sekitar Rp 2,25 miliar. Sudah agak lama. Pelunasannya langsung, ketika saya beli. Agak mahal, karena luasnya lebih besar. Ya saya bayar, ya sudah. Tidak ada istilah saya memaksakan kehendak,” jelasnya.Soal gugatan, pria yang bernama asli Tan Han Kwan mengaku legawa. Karena dalam posisi sekarang, Slamet merasa tidak menyalahi dan memaksakan kehendak pada siapapun. Apa yang dilakukan sekarang, semata karena ada keputusan Pemkot Magelang dan investor. “Lha saya sudah bertanya kepada pemerintah. Mereka sudah tunjukkan kios saya mana. Kalau ini masih dianggap salah, terus saya harus percaya kepada siapa. Makanya, untuk urusan ini saya legawa,” ungkapnya.
Sebagai pebisnis, Slamet mengaku tidak mau dipusingkan dengan urusan hukum. Sehingga persoalan gugatan maupunhukum yang ada, mempersilahkan wartawan koran ini menghubungi kuasa hukumnya, Bambang Tjatur Iswanto SH MH.”Soal dalam gugatan sekarang, saya ikut digugat, saya sudah serahkan semua ke pengacara saya. Saya ga patek mikir. Saya mantap, karena saya tidak pernah njawil siapa-siapa. Itu memang hak saya dan saya percaya pemerintah, agar ga keliru,” tegasnya.Slamet juga menandaskan, pihaknya dengan Herry Chandra bersahabat. “Saya dan Sinho (Herry Chandra, Red) itu sahabat. Saya sama dia juga tetep temen baik. Kalau mungkin Sinho ada masalah, ya terserah pihak sana,” elaknya.
Seperti diberitakan, Pemilik Toko Mas Gatotkoco Herry Chandra dan Sri Sulistiowati kembali menggugat Pemkot Magelang, terkait penempatan kios Pasar Rejowinangun yang menghadap Jalan Mataram ke PN Magelang. Slamet Santoso, pemilik Toko Mas Mustika yang oleh Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) diberi hak menempati kios nomor 1 di Jalan Mataram ikut digugat. Termasuk investor pembangunan Pasar Rejowinangun, PT Putra Wahid Pratama dan PT Kuntjup Salatiga (JO), sebagai tergugat ketiga. Sidang perdana gugatan kasus perdata perbuatan melawan hukum (PMH) yang diduga dilakukan Pemkot dan tergugat lainnya digelar Selasa lalu (5/8). Majelis Hakimnya terdiri dari H. Irwan Effendi SH MH selaku ketua, dengan anggota Delta Tamtama SH MH dan Ernila Widikartikawati SH. Bertindak sebagai panitera pengganti adalah Zaenal Masrur.(dem/hes)