JOGJA – Melimpahnya salak saat panen raya mengakibatkan harga salak jatuh. Harga salak yang rendah tidak memberikan banyak penghasilan petani salak. Banyaknya salak memaksa petani menjual habis hasil panennya agar tidak rugi.Hal tersebut berbeda usai panen, harga salak membaik. Dibutuhkan inovasi pengolahan salak yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi. Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Nafisah Ulfah Fitri Nurrasta, Ika Yuli Arwinanti, Rofingah Juni Astuti dan Faradina Kusuma Dewi menggagas produk olahan sari buah salak.
Oalahan ini merupakan minuman ekstrak dari buah salak yang tidak mengalami proses fermentasi dan penambahan CO2 (carbondioxide). Sari buah dikonsumsi sebagai minuman segar yang langsung dapat diminum. Menurut Nafisah buah salak mempunyai serat tinggi. Dapat mengobati berbagai penyakit, di antaranya mengandung betakaroten yang baik untuk menjaga kesehatan mata. “Salak berserat tinggi, dapat mengobati diare,” kata Nafisah.Setiap 100 gram buah salak mengandung energi 368 kilokalori, protein 0,8 gram, karbohidrat 90,3 gram, lemak 0,4 gram, kalsium 38 miligram, fosfor 31 miligram, zat besi 3,9 miligram. “Sebuah salak juga mengandung vitamin C 8,4 miligram” katanya.
Cara pembuatan sari buah salak, direndam dalam larutan garam dan dikukus. Setelah itu didinginkan dengan cepat supaya tidak terjadi pemasakan berkelanjutan.Bahan dihancurkan, lalu dimasukkan cacahan buah dalam air mendidih. Kemudian ditambah gula pasir dan asam sitrat. Karya mereka meraih pendanaan dari Dikti dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) 2014. (mar/iwa)