AKSI Dodog cukup menyita perhatian warga sekitar. Dalam aksinya pria berambut panjang ini membawa ember dan gayung. Dirinya seolah-olah sedang mandi, namun bukan air yang mengguyur tubuhnya melainkan tanah. Ya, Dodog merasa mengeringnya air tanah di sekitar tempat tinggalnya akibat adanya hotel yang dibangun.Dalam aksi teatrikal, Dodog menuding Fave Hotel Jogja sebagai penyebab banyaknya sumur warga Miliran yang mengering. Kegiatan usaha Fave Hotel, menurut Dodog, membuat sumur warga sekitar mengering. “Kering, tak ada air,” tandasnya kemarin (6/8).Tetapi hal itu dibantah tegas oleh Manajer Fave Hotel Jogja Yosi Arivianto. Menurut Yosi semua dokumen dan proses pelaksanaan pembangunan serta operasional hotel sudah sesuai dengan prosedur serta persyaratan. Pihak manajemen hotel yang terletak di Jalan Kusumanegara ini juga sudah berencana untuk melakukan pertemuan dengan warga sekitar hotel. “Minggu depan sudah diagendakan pertemuan. Kami libatkan semua pihak supaya hal ini tidak menjadi persoalan personal,” ujar Yosi.
Sementara itu, Kasubid Pengawasan dan Pengendalian Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Very Tri Jatmiko ketika dikonfirmasi mengenai hal itu, mengatakan sebenarnya untuk Fave Hotel sudah mengambil air tanah dari air dalam bukan air dangkal. Sumur warga di pemukiman tergolong air dangkal atau kedalaman kurang dari 30 meter. Sementara air dalam, kedalamannya lebih dari 40 meter. “Tanpa bermaksud memihak siapapun, tapi dari dokumen kami, Fave ini menggunakan air tanah dalam. Kami kerja sama dengan Dinas PUP-ESDM DIJ untuk memberikan rekomendasi teknis untuk air tanah dalam ini,” jelasnya.
Menurut Very untuk kegiatan dunia usaha, termasuk hotel ini, pihaknya menyarankan untuk menggunakan air tanah dalam. Sementara air dangkal untuk kegiatan warga. Dalam dokumen yang dimiliki BLH Kota Jogja, tanah di sekitar Fave Hotel berada di kedalaman 30 hingga 40 meter terdapat lapisan tanah lempung setebal sekitar enam meter sehingga sulit dilewati air. Bahkan saat dilakukan uji pemompaan pada 1 Oktober 2012 silam, air sumur warga di sekitar hotel tersebut tidak berpengaruh. Dalam pengujian menghidupkan pompa sumur dalam selama delapan jam dengan debit 0,66 liter per detik.Menanggapi kekeringan di sumur warga, Very mengatakan hal itu bisa disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena faktor musim. Terlebih pada Agustus ini mulai memasuki puncak musim kemarau. Dampak yang bisa dirasakan seperti debit air yang berkurang dan beberapa mengering. Untuk air dangkal ini bisa terganggu karena musim, seperti saat kemarau atau karena tutupan tanah yang berlebih, sehingga mengurangi resapan air. “Warga yang sumurnya mengering yang realistis saat ini ya disarankan untuk disuntik atau dibor untuk memperdalam sumur,” ujarnya. (*/ila)