NAMALetnan Kolonel Soeharto erat dengan peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Presiden ke-2 Republik Indonesia ini kerap dikaitkan sebagai inisiator serangan ini. Namun, sebuah fakta lain berkata bahwa ada tokoh lain. Dia adalah Raja Keraton Jogjakarta pada waktu itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.Kepala Dinas Kebudayaan DIJ GBPH Yudhaningrat mengungkapkan, film ini dibuat berdasarkan saksi sejarah. Selain itu pembuatan film ini dilakukan dengan membongkar semua data pustaka yang dimiliki. Termasuk keraton yang turut berperan dalam pertempuran 6 jam di Jogjakarta itu.”Salah satu saksinya adalah Mas Tirun (KRT Jatiningrat) yang merupakan anak dari GBPH Prabuningrat. Waktu itu Mas Tirun ada di lokasi peristiwa saat rembugan penyerangan. Tokoh rembugan antara Ngarso Dalem HB IX dengan GBPH Prabuningrat maupun dengan Letkol Soeharto,” kata GBPH Yudhaningrat saat jumpa pers di Kantor Dinas Kebudayaan DIJ, kemarin (7/8).
Pria yang akrab disapa Gusti Yudha ini setuju bahwa film ini sangat penting. Tanpa bermaksud mengubah sejarah yang telah ada, fakta ini menurutnya patut digali. Peristiwa berawal ketika ayahandanya, Sultan HB IX, merasa resah akan serangan Belanda.Jogjakarta yang pada waktu itu menjadi ibukota Republik Indonesia mendapat pengawalan yang ketat. Alhasil tentara dan para pejuang Indonesia tidak bisa berkutik dengan leluasa. Meski begitu, perjuangan tetap dilakukan dengan cara gerilya.Bahkan pada waktu itu terlihat persatuan antar rakyat di Jogjakarta. Perjuangan ini, menurutnya, tidak hanya menjadi milik rakyat Jogjakarta saja. Bahkan dalam satu scene ditampilkan warga Tionghoa yang berjuang bersama pejuang Jogjakarta.”Semua unsur benar-benar bersatu, baik rakyat, tentara hingga para kerabat dan keluarga Keraton Jogjakarta. Dalam film ini juga diangkat HB IX mengirim surat kepada Letjend Soedirman dan diteruksan kepada Letkol Soeharto,” kata putera HB IX ini.
Sutradara film Triyatno Hapsoro mengungkapkan, film ini merupakan fakta lain, di mana mampu mengangkat inisiator peristiwa besar di Jogjakarta. Pria yang akrab dipanggil Gentong ini terlebih dahulu melakukan riset.Riset awal adalah dengan membongkar pustaka dan juga pelaku sejarah. Film-film lain pun turut menjadi pandangan bagi timnya dalam menggarap. Sebut saja 6 Djam di Djogja karya Usmar Ismail pada tahun 1951, Janur Kuning karya Alam rengga Surawidjaja tahun 1979 dan Serangan Fajar karya Arifin C Noer tahun 1982.”Tidak ingin meluruskan, tapi menampilkan fakta sejarah yang lain. Menjadi teman sebuah monumen batu kecil di Keraton Jogjakarta. Monumen ini bukti bahwa ide Serangan Oemoem 1 Maret adalah HB IX, ” kata Gentong.Untuk menghidupkan persitiwa ini, Gentong memiliki beberapa teknik. Salah satunya adalah lokasi syuting di lokasi asli. Seperti Keraton Jogjakarta hingga lokasi persembunyian para gerilyawan di Jogjakarta. Pustaka yang digunakan adalah beberapa buku bersejarah. Buku seperti Tahta untuk Rakyat hingga buku berjudul Pelurusan Sejarah Satoe Maret menjadi kunci penting. Bahkan dalam buku terakhir ada sebuah kesaksian dari almarhum Marzuki.”Kesaksian ini di atas sebuah materai di mana beliau melihat sendiri Pak Harto masuk ke dalam keraton. Beliau juga berdialog dengan Pak Harto setelah menghadap HB IX. Naskah dalam film pun mengutip dan sama persis seperti dalam buku,” kata Gentong. Gusti Yudha mengungkapkan, penggarapan film ini tidak hanya sebuah khasanah ilmu. Di sisi lain juga merupakan bagian dari budaya yang dimiliki. Di mana melalui film ini dapat melihat budaya apa yang berkembang pada waktu itu.Meski mengalami penjajahan Belanda, budaya Jogjakarta tetap bertahan. Budaya Belanda pun turut mengisi perkembangan di Jogjakarta pada waktu itu di mana dalam sebuah adegan terdapat percakapan antara HB IX dengan GBPH Prabuningrat dengan bahasa Belanda.
Film ini rencanaya akan didistribusikan secara merata. Dengan sasaran utama pelajar dan warga, film ini dapat langsung diambil di kantor Dinas Kebudayaan DIJ, Jalan Cendana. Film Sebelum Serangan Fadjar ini juga akan diputar di televisi lokal Jogjakarta.”Untuk penggarapan film ini menggunakan dana APBD. Sasarannya memang masyarakat luas, khususnya pelajar. Harapannya dapat menambah khasanah ilmu sejarah khususnya di Jogjakarta,” kata Gusti Yudha.Selain memproduksi film ini, Dinas Kebudayaan DIJ juga menggarap film lain. Salah satunya adalah film yang bercerita tentang Raja-Raja Keraton Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono. Film ini terdiri atas 15 serial. “Untuk penggarapan film serial ini menggunakan dana keistimewaan. Selain mengangkat kultural dan nilai historis, juga sebagai sebuah nilai pengetahuan. Ada juga film tentang hip-hop yang turut mewarnai kultur baru yang menguatkan,” ungkap Gusti Yudha. (*/laz)