PADA satu sesi di ajang Jogja Fashion Week 2014 lalu, Michael menampilkan rancangan yang mengangkat dua kain tradisional Indonesia, yakni batik dan tenun. Tapi tidak hanya itu, Michael memberikan sesuatu yang berbeda dengan mengaplikasikan kulit sapi sebagai dengan border.
“Baru pertama kali ini saya coba, mengkombinasikan batik dan tenun kemudian menggunakan aplikasi kulit sapi,” ujarnya belum lama ini.
Beberapa motif batik yang khas diambil untuk koleksi yang diberi judul Tritis Hujan ini. Seperti motif batik Madura, Pekalongan dan Jogja. Motif yang khas ini dipadukan dengan tenun yang diselaraskan dengan warna yang ada. Sehingga kesannya tidak tabrak warna dan motif, namun tetap pada benang merah yang selaras.
Demikian halnya dengan aplikasi kulit sapi dan border yang tidak hanya asal tempel, namun menjadi pemanis yang menjadi ciri khas untuk koleksinya kali ini. Biasanya, kulit sapi digunakan sebagai bahan utama pembuatan jaket, karena kulit sapi bersifat menghangatkan dan kaku. Namun, kulit sapi yang yang digunakan dalam koleksinya kali ini hanya sebagai aplikasi yang dibuat selaras dengan motif batik yang ada.
Koleksinya ini dimunculkan dalam busana-busana pria dan perempuan. Pada busana perempuan, berupa dress sepanjang lutut, long dress dan two pieces. Sedangkan untuk pria merupakan koleksi kemeja lengan pendek, lengan tiga perempat dengan aksen di bagian kerah dan bagian depan.
“Tetap mengangkat batik namun aplikasinya terus saya gali agar menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda. Sehingga kesannya batik tidak hanya begitu-begitu saja,” ujar pemilik lini Rumah Mode Michael ini.
Koleksi ready to wear Michael ini dapat menjadi inspirasi rancangan menjelang akhir tahun. Dengan kesan elegan yang hangat, berbentuk modern namun kesan klasiknya tetap kuat. “Dapat tampil kasual maupun formal dengan busana ini,” ungkapnya. (dya/ila/rv)