MAGELANG –Budiono, 76, memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri kemarin (7/8). Penjual kupat tahu keliling yang tinggal di RT 3/RW 11 Kampung Meteseh Tengah, Kelurahan Magelang, Kota Magelang gantung diri dengan tali tambang di rumahnya. Didit Sriyadi, 60, tetangga korban tidak percaya sahabatnya nekat melakukan hal yang dilarang agama tersebut.”Pagi itu, saya tidak berencana mampir ke rumahnya. Tapi, sepertinya ada sesuatu dan saya memutuskan mampir. Ternyata Pak No (panggilan akrab korban, Red) sudah meninggal dengan cara gantung,” jelas Didit.
Melihat korban sudah tak bernyawa, Didit memanggil para tetangga dan aparat kepolisian dari Polsek Magelang Tengah. Tidak lama, tetangga berkerumun di rumah korban yang hanya berdinding gedek bambu () itu. Termasuk polisi yang langsung olah TKP.Kapolsek Magelang Tengah Kompol I Gede Suarti mengatakan, tidak diketahui pasti kapan korban gantung diri. Para tetangga mengetahui sekitar pukul 08.30 setelah korban dalam kondisi tidak bernyawa.”Kami langsung olah TKP dan menurunkan korban dari jeratan tali tambang yang tergantung di kayu atap rumah. Dari pemeriksaan, tidak ditemukan adanya indikasi tindakan kekerasan atau aniaya dari orang lain. Ini murni kejadian bunuh diri,” katanya.
Terkait motif tindakan tersebut, Gede belum bisa memastikan. Dari keterangan saksi dan adik korban Imam Sakbani, kemungkinan korban bunuh diri karena terbelit persoalan ekonomi.”Korban tinggal seorang diri di rumah sederhananya ini. Adiknya tinggal di lingkungan RT 2 kampung yang sama. Sedangkan anak tunggalnya yang bernama Sutoyo tinggal di Muntilan,” katanya.Imam Sakbani mengaku, kakaknya dalam beberapa tahun belakangan mengeluh soal ekonomi. Sebagai penjual kupat tahu keliling, penghasilan korban tidak seberapa dibanding beban hidup yang cukup berat.”Terus terang saya terkejut kakak bisa nekat bunuh diri. Ia sering mengeluh banyak hutang yang belum bisa dilunasi. Tidak tahu kalau akhirnya berujung seperti ini,” ungkapnya.Oleh warga, korban langsung dimandikan dan disalatkan di masjid kampung setempat. Kemudian, jenazah dimakamkan di pemakaman umum kampung. “Kami jelas prihatin, karena Pak No orangnya baik dan ramah pada siapapun,” imbuh Isak Djauhari, ketua RT setempat.(dem/hes)