MUNGKID – Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menjalankan program konservasidi CandiNgawen yang berada di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Konservasi dilakukan sebagai upaya pencegahan kerusakan dan pelapukan batu dan relief Candi Ngawen. Petugas membersihkan candi dengan teknik khusus.Upaya konservasi bukan kali pertamanya. Upaya serupa pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Candi Ngawen sempat dipugar pada Juni 2011, lantaran bangunan candi mengalami kerusakan parah. Yakni, amblas pada bagian pondasi setelah dilakukan pemugaran pada Juli 2012. BPCB Jateng melakukan rekonstruksi ulang atau membangun kembali Candi Ngawen.Juru Konservasi BPCB Jateng Utoyo mengatakan, pembersihan Candi Ngawen sebagai upaya pencegahan kerusakan dan pelapukan batu dan reliefnya. Candi bernuansa Buddha peninggalan Wangsa Syailendra ini dikerjakan Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah selama 10 hari. Candi Ngawen dibersihkan dengan pembersihan secara mekanis maupun kimia. “Untuk menjaga batucandiyang berumur ratusan tahun tetap bersih dari kotoran debu jamur kerak danlumut,” tegas Utoyo kemarin (7/8).
Sebagai upaya mencegah kerusakan dan pelapukan batu maupun relief, BPCB Jawa Tengah melakukan aktivitas penyemprotan debgan air bertekanan atau steam cleaner. Penyemprotan dilakukan ke setiap batuan candi. Selain agar tidak rusak akibat lumut dan jamur, batucandimudah lapuk dan rusak akibat proses alami penggaraman dari air hujan ke permukaan batucandi.”Pembersihan dilakukan dengan seksama guna menjaga kelestarian batu dari pelapukan. Sistem pembersihan melalui dua tahap. Yakni secara mekanis dan kimia,” imbuhnya.Menurut Utoyo, pembersihan mekanis dilakukan dengan sistem kering. Yakni dengan sikat atau sapu lidi dan sistem basah dengan steam cleaner. Setelah itu, candi dibersihkan dari jamur kerak dan lumut menggunakan cairan kimia. Yakni ac-322 dan hyamin.(ady/hes)