SEBUAH jam tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu. Bentuknya yang beragam, jam juga bisa menjadi pemanis ruangan. Inilah yang menjadi daya tarik jam lemari dengan sisi seni dari bentuknya, tak sedikit orang menjadikan jam lemari sebagai koleksi.Jam lemari memiliki cirikhasnya sendiri, seperti ukurannya yang besar, mesinnya yang menggunakan mesin mekanik, bandul dan suara dentingan khas Westminster. “Semua mesin masih impor, dengan bahannya yang semua logam,” ujar salah satu karyawan Gunung Mas, Rini saat ditemui di pameran produk di Plaza Ambarrukmo, Kamis (7/8).
Dirinya mengatakan minat masyarakat terhadap jam lemari masih cukup bertahan dan selalu stabil setiap tahunnya. Karena selalu diimbangi dengan desain bentuk yang baru. Misalnya, untuk bingkai banyak yang menggunakan produk lokal dengan bahan baku jati dan mahoni, sedangkan mesinnya tetap impor. Salah satu jam lemari yang hingga kini bertahan di pasaran yakni jam lemari Junghans yang mesinnya merupakan produk dari Jerman. Ketahanan mesin mekanik yang bisa bertahan dalam waktu lama menjadi salah satu faktor yang membuat jam jenis ini banyak diincar. “Mesin dengan pola mekanik tidak sulit perawatannya, asal pelumasan yang diperhatikan. Beruntungnya zaman sekarang, pelumasan hanya tinggal semprot,” ujarnya.
Dirinya mengatakan kalau pelumasan bagus dijamin mesin tidak rusak, kecuali ada kesalahan teknis. Setidaknya dalam satu tahun sekali mesin diberikan pelumas. Karena fungsi pelumas selain membersihkan sekaligus melumasi agar mesin tidak aus dan berkarat.Desain jam lemari terus berkembang meskipun bentuk klasiknya tetap dipertahankan. Dengan bentuknya ini, memungkinkan jam berbandul ini dapat ditempatkan di ruangan manapun. Bahkan bisa menjadi daya tarik dari ruangan yang ditempati, mulai dari rumah gaya minimalis, perkantoran hingga ditempatkan di rumah ibadah. “Saat ini bentuknya juga bisa disesuaikan dengan permintaan, sedangkan mesin mengalami perkembangan dengan setting yang bisa di-silent dan beberapa mesin ada yang memiliki pilihan denting lebih dari satu,” ujar Rini. (dya/ila/rv)