KARANGMOJO – Konflik pengelolaan Gua Pindul semakin panas. Kubu Atiek Damayanti meminta kompensasi pengelolaan objek wisata tersebut secara sepihak. Atiek yang mengklaim bahwa kawasan Gua Pindul merupakan aset pribadinya mendatangkan lima orang ke sana. Masing-masing, Penny (ipar Atiek), Taufik Haryanto, Untung, Yudi Hermawan dan Basuki. Mereka datang menggunakan Toyota Kijang AB 1942 SH ke Gua Pindul sekitar pukul 14.00, kemarin.Ketika pemandu Gua Pindul membawa pengunjung masuk ke gua, Penny meminta kompensasi Rp 20 ribu per pengunjung. Pemandu dilarang membawa masuk wisatawan menyusuri gua. Kabar tersebut menyebar. Warga memukul kentongan isyarat mengundang warga.Lalu dilakukan negosiasi di rumah Adi Waijo (kerabat Atiek). Namun negosiasi gagal. Situasi memanas, warga berteriak dan mencaci maki kelima orang tersebut. Menghindari kemungkinan terburuk, kubu Atiek dibawa petugas bersenjata lengkap.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Gunungkidul Tommy Harahap di lokasi kejadian mencoba menangkan warga. Tommy berinisiatif menyelesaikan persoalan di kantor pemkab. Lalu kelima orang itu dibawa ke gedung pemkab. Ratusan warga menguntit.Dalam pertemuan, situasi kembali memanas. Perwakilan pokdarwis (kelompok sadar wisata) mendesak Penny membuat surat pernyataan tidak akan mengganggu pengelolaan Gua Pindul. Di atas kertas bermaterai, Penny akhirnya membacakan surat penyataan, intinya tidak akan lagi minta jatah.Penyataan Penny disambut gembira warga. Warga kemudian membubarkan diri.Tommy Hararap menyatakan Gua Pindul dikuasai pemerintah. Ada peraturan daerah yang mengatur Gua Pindul. Jika ingin meminta kompensasi atas tanah miliknya di Gua Pindul, disarankan mengajukan gugatan hukum. “Pemerintah siap menghadapi,” tegas Tommy.Penny mengakui, tujuan datang ke Gua Pindul memang untuk meminta kompensasi sebesar Rp 20 ribu per pengunjung. (gun/iwa)