KETERBATASAN tidak mengurangi semangat perempuan yang akrab disapa Rika ini untuk berusaha. Ia ingin menyumbangkan ilmu dan mencerdaskan masyarakat di sekitar Candi Borobudur.Awalnya, ungkap Rika, ia mendapat motivasi dari cita-cita almarhumah ibunya yang juga sebagai tenaga pendidik. Rika trenyuh dan sedih manakala masih menjumpai satu -dua anak di lingkungan desanya tidak naik kelas di bangku SD hingga dua periodik. Ia menyadari, untuk mengurai permasalahan dampak sosial terhadap perkembangan pendidikan sangatlah tidak mudah. “Diperlukan evaluasi kerja sama antara orang tua murid dan guru,” tegas Rika kemarin (7/8).
Selain mengatasi masalah yang ada, lanjut rika, peneliti dan praktis perlu peduli pada elemen dunia pendidikan. Mereka harus mengetahui bahwa dibutuhkan kesabaran dan perhatian khusus dalam mengawal anak-anak agar berkelanjutan menjadi sosok generasi yang berkompeten dan bermartabat.Rika menjelaskan, berdirinya PAUD Omah Bocah di Dusun Ngaran 1 Desa Borobudur juga merupakan dukungan Yoyok, praktisi Edukasi Seni. Upaya pembentukan lembaga pendidikan ini dengan alasan ikut menjawab kesenjangan edukasi yang ada. Ia merasakan ada sisi komersil dan jauh dari tujuan sisi sosialnya dalam memajukan kompetensi lokal.Dikatakan Rika, saat Calistung (baca, tulis, dan hitung) tidak diwajibkan untuk program pembelajaran anak PAUD. Tentu masih banyak cara penyampaian edukasi yang bersumber pada keragaman bentuk imaginer. Baik dari olah kreativitas pendidiknya. “Salah satu contoh anak-anak mulai dikenalkan dengan nama teman-temanya, menghafal urutan nama hari kerja, susunan bentuk alat peraga, mencampur proses warna, memahami syair lagu anak, menyanyi, dan menari. Ini untuk merangsang perbendaharaan kemampuan pola penalaran anak sebagai metode aktulisasi program edukasi pada dunia anak,” katanya.Perempuan ini mengingat, perkembangan usia anak yang semakin kritis, perlu penanganan seksama dengan sistem yang lebih bijak. Artinya, tetap mengawal, memantau, dan mengarahkan pada koridor pola pemikiran dan penalaran logika. Jadi, bukan sebaliknya, memaksakan dangan cara oposite analogika.Menurutnya, sudah bukan zaman mengekang aktivitas anak. Seperti melarang dan menakut-nakuti agar tidak main jauh dengan alasan ada hantu atau melarang anak jajan dengan alasan bisa cacingan. Guru dan orang tua bisa menyampaikan dengan santun dan bijak, dengan memberikan alasan nyata dan masuk akal.
Ia menilai secara umum, untuk membangun generasi anak bangsa yang berkualitas dengan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) pendidikan yang memadai. Terutama SDM yang konsern pada PAUD. “Dari sisi sisi kehidupan normatif, harus mulai terpola dan dibiasakan sejak awal berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Juga menumbuhkan kesadaran cinta pada lingkungan alam, menanam dan menyiram pohon, serta menyayangi binatang,” katanya.Ditegaskan, ada sisi penyampaian pesan moral mulia agar tak merusak alam dan tidak dibolehkan membuang sampah di sembarang tempat. Siswa juga diajari sifat rajin bersih-bersih rumah, bisa mandi dan sikat gigi sendiri, cuci tangan sebelum makan, saling menghormati, dan menyayangi sesamanya. “Munculnya games akan mempengaruhi anak-anak. Pembentukan karakter individualis akan muncul. Yang terjadi, muncul generasi anak yang cenderung introves,cuek, dan tertutup,” katanya.(*/hes)