JOGJA – Sebanyak 35 SPBU yang berada pada cluster Region IV Jawa Tengah dan DIJ pada 4 Agustus lalu mulai menjalankan kebijakan pembatasan pelayanan penjualan BBM jenis tertentu mulai dari pukul 08.00 hingga 18.00. Dari jumlah tersebut terdapat tiga SPBU dari DIJ yang menerapkan kebijakan berdasarkan Surat Edaran Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) No. 937/07/KaBPH/2014 tentang Penjualan Jenis BBM Tertentu.Assistant Manager External Relations PT Pertamina (Persero) Region IV Area DIJ Robert Marchelino Vereiza Dumatubun memaparkan ketiga SPBU yang menerapkan kebijakan tersebut yakni dua terdapat di Sleman dan satu di Gunungkidul. Ketiga SPBU tersebut adalah SPBU Samirono, Caturtunggal, Depok; SPBU Babasari, Seturan, Depok dan SPBU Wonosari, Gunungkidul. “Dengan ditetapkannya SPBU tersebut masyarakat tidak perlu resah dan khawatir. Sebab secara keseluruhan penerapan kebijakan hanya lima persen dari seluruh SPBU yang ada di wilayah Jateng dan DIJ,” kata Robert, Kamis (7/8).
Menurut Robert pengguna kendaraan solar baik pribadi maupun umum juga tidak perlu khawatir dengan kebijakan tersebut. Apalagi merasa kesulitan untuk mendapatkan solar subsidi pada jam yang diterapkan, sebab jarak SPBU di Jateng dan DIJ sendiri tidak berjauhan.Robert menegaskan masyarakat tidak perlu panik kehabisan ketersediaan stok solar. Pertamina menyatakan bahwa stok BBM solar dalam kondisi cukup. “Jangan sampai panic buying dan mengantre di SPBU sebab ketersedian BMM solar mencukupi,” tegasnya.Informasi mengenai SPBU yang menerapkan kebijakan pembatasan BBM sebagai upaya agar masyarakat tidak kesulitan mencari SPBU yang menerapkan kebijakan tersebut. “Kami memberikan gambaran dan informasi agar masyarakat tidak kesulitan dalam memperoleh BBM selama diberlakukan kebijakan tersebut. Sekaligus memberikan alternatif SPBU lainnya yang tidak diberlakukan kebijakan tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Marketing Branch Manager Pertamina DIJ dan Surakarta Freddy Anwar menyampaikan DIJ hanya dipilih tiga SPBU karena bukan temasuk cluster-cluster pembatasan solar subsidi. Tiga SPBU yang dipilih bukan di jalur utama. Freddy memaparkan, konsumsi solar DIJ hanya mencapai 350 Kiloliter (KL), premium sebesar1500 KL dan Pertamax 35 KL per hari. Sehingga pembatasan tersebut tidak akan mempengaruhi pasokan. Realisasi konsumsi BBM subsidi di DIJ, tambahnya, telah mencapai 54 persen per Juli 2014 lalu. Sehingga sisa pasokan yang sudah ada mencukupi hingga lima bulan ke depan. “Kuota terbaru BBM subsidi untuk DIJ masih menunggu revisi dari pusat, yang lama kita dapat jatah 575.306 KL premium dan 130 ribu KL solar per tahun,” jelasnya.Sebelumnya Ketua Hiswana Migas DIJ Siswanto memaparkan di wilayah DIJ tahun ini kuota solar bersubsidi maupun premium mengalami penurunan kuota. Jika kuata solar bersubsidi pada tahun 2013 sebanyak. 138.757 KL, tahun ini menjadi 134.270 KL. Sedangkan untuk premium dari 575.306 KL kini menjadi 558.575 KL. “Konsumsi solar di wilayah DIJ stagnan. Berbeda dengan konsumsi premium,” jelasnya. (bhn/ila)