SLEMAN – Seni dapat memasuki berbagai ruang tanpa ada sekat penghalang. Baik lintas agama, kultur, suku hingga lintas daerah yang berbeda. Itulah yang dirasakan Didik Hadiprayitno atau Didik Nini Thowok. Baginya seni adalah bahasa universal.Sebagai contoh ketika bahasa verbal menjadi kendala, seni dapat menjadi penjembatan. Ini terbukti dengan dirinya tekun menggeluti dunia tari sejak masih remaja. “Seni itu menembus semua batas pengalaman pribadi dan dapat berkumpul dengan seniman lintas negara. Bahkan seni juga menjadi sebuah diplomasi budaya,” kata pemilik nama Tionghoa Kwee Tjoen An ini.
Ditemui di kantor LPK Tari Natya Lakshita di Godean, Sleman belum lama ini, dia mengatakan seni adalah sesuatu yang penting. Sebagai bahasa diplomasi, seni memiliki pengaruh yang besar. Bahkan dalam setiap kunjungan, seni kerap menjadi sebuah tonggak utama sebuah bangsa.Indonesia menurutnya memiliki kekayaan seni budaya. Mulai dari ujung barat hingga ujung timur, terdiri dari ribuan kekayaan seni dan budaya. Bahkan ini dapat menjadi kekuatan lebih bagi Indonesia dalam menyokong kekuatan nasional.
Pengalaman sebagai diplomat budaya pernah dialami oleh pria kelahiran Temanggung, 13 November 1954 ini. Pengalaman ini didapatkannya saat berkunjung ke Kuwait. Bahkan misi kebudayaan Didik pada waktu itu terbilang sangat penting. “Pada waktu itu Indonesia bermasalah karena ada kasus TKI. Dimana UU tentang hak TKI tidak sesuai dengan hukum. Daripada mengangkat senjata lebih baik mengembalikan dengan wujud seni budaya,” katanya.Seni menurutnya dapat dijadikan sebagai bahasa pemersatu. Dimana seni dapat dilakoni tanpa memandang suku, ras, agama maupun kepentingan. Sehingga semua unsur ini dapat melebur menjadi satu yang indah. “Tidak membedakan, karena perbedaan justru adalah pemersatu,” tandasnya. (dwi/ila)