SLEMAN – Polisi lagi-lagi mengungkap peredaran narkoba di Lapas Narkotika Kelas II A Jogjakarta di Pakem. Ganja dan sabu yang disamarkan di dalam bola tenis masih menjadi modus operandi. Hingga kemarin (8/8), total ada sembilan bola tenis berisi barang haram tersebut yang disita aparat.Kabag Operasional Satresnarkoba Polres Sleman Ipda Joni Sunarto mengungkapkan, temuan tiga bola berisi bahan terlarang berasal dari informasi Lapas Narkotika pada Kamis (7/8) pukul 11.30. Dua bola berisi daun ganja kering yang dipadatkan, masing-masing seberat sekitar 1 ons. Satu bola lagi berisi 1 gram serbuk sabu-sabu (SS) dan 10 butir pil warna hijau, lima pak kertas sigaret, dan sebutir pil riklona clonazepam. Dalam bola yang kulitnya diiris melintang itu juga terdapat satu simcard nomor telepon selular Telkomsel. “Simcard itu diduga sebagai alat komunikasi dengan penghuni di dalam lapas,” ungkap Joni. Bola dilemparkan oleh seseorang dari luar tembok sisi timur yang terdiri tiga lapis. Agaknya, si pelempar tak berhasil mengenai sasaran. Bola hanya sampai lapisan tembok pertama. Joni menduga, pelemparan bola dilakukan saat pergantian penjagan sipir sift pertama.
Pelemparan bola dianggap berhasil jika bisa melampaui tembok lapisan ke dua. Sebab, di kawasan itu sebagian warga binaan masih bebas berkeliaran. Hanya narapidana saja yang dikurung di blok-blok tahanan. Jadi, bola bisa langsung sampai ke sasaran. Pelemparan bola juga pernah terjadi di tembok sisi barat. Di sisi ini biasanya bola di arahkan di dekat masjid atau kolam ikan. Joni menduga dalam sehari bisa lebih dari dua bola yang dilemparkan ke dalam lapas. Dari tanda-tanda pada kulit bola, terindikasi ada lebih dari satu pemesan. Misalnya, satu bola direkatkan dengan lakban putih, bola lain lakban coklat. Ada juga yang diberi tanda huruf tertentu. Cara memotong kulit bola juga berbeda-beda. Ada yang melintang atau mengikuti garis bola. “Itu semacam kode bagi pemesan,” kata Joni.Polisi telah menangkap dua pelaku pelempar bola isi ganja beserta barang bukti pada akhir 2013 dan Maret 2014. Para tersangka mengakui tindakan mereka.
Indikasi keberadaan gembong narkoba di dalam lapas dikuatkan dengan tertangkapnya tiga pengguna ganja pada awal pekan ini. Tersangka Agus Melasi ditangkap saat mengambil satu bungkus ganja kering seberat 34 gram di wilayah Mayangan, Trihanggo, Gamping, Sleman. Agus mengaku proses pembelian ganja dilakukan lewat SMS dengan seorang pengendali dari lapas. Tersangka harus mentransfer sejumlah uang, lalu diberi petunjuk lokasi keberadaan barang. Tri Budi, tersangka lain mengaku memperoleh nomor telepon seluler milik seorang pengendali narkoba saat dia ditahan di Lapas Pakem pada 2006. “Ada teman namanya Candra. Dia di dalam lapas yang beri nomor,” bebernya. Dari Tri Budi pula Agus Melasi memperoleh nomor Candra, yang lantas menggiringnya ke balik jeruji besi.Kepala Divisi Permasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) DIJ Agus Thoyib membenarkan perihal bola isi ganja yang gagal sampai sasaran. Bola itu ditemukan saat sipir mengontrol ruang antara tembok blok dengan pembatas luar lapas. (yog/laz)