MESKI berkiblat pada tarian kontemporer, dara cantik kelahiran Jakarta, 15 Mei 1989 ini tetap berpegang teguh pada tarian tradisional. Ini terbukti dirinya sudah menggeluti tari Bali sejak duduk di bangku SDN 01 Cijantung Jakarta. “Dulu awalnya tidak begitu suka karena gurunya galak. Tapi dibalik ini semua ini ternyata ada cerita. Bahwa semuanya harus diraih dengan perjuangan yang keras,” katanya kemarin (9/8).
Belajar tari Bali perlahan membentuk bahasa tubuhnya. Dalam perkembangannya, Mila lebih menyenanghi tarian yang rancak dan energik. Hal ini berimbas saat dirinya tertarik untuk belajar tari klasik gaya Jogjakarta. Saat menimba ilmu di SMAN 9 Jogjakarta, dirinya terpilih menjadi Duta Seni Pelajar. Jabatan ini membuat dirinya harus berangkat ke luar negeri. Syaratnya harus bisa menarikan tari tradisi gaya Jogjakarta. Inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi dirinya. “Awalnya kurang begitu sreg dengan tari klasik gaya Jogjakarta, karena gerakannya lemah lembut. Namun lambat laun mulai menyukai karena makna yang diajarkan dalam setiap tarian itu berbeda-beda. Dalam tarian tradisi gaya Jogjakarta menemukan nilai filosofi yang dalam,” kata Mila.
Selain Bali dan Jogjakarta, dara cantik ini juga menggeluti beberapa tarian tradisional lainnya. Sebut saja tarian Aceh, tari Lilin dari Sumatera Barat, tari Ngremo dari Jawa Timur, tarian Kalimantan, hingga tarian Papua. Hal ini dijalani untuk melihat dan mempelajari seni olah dan gerak tubuh.
Selain mempelajari tarian tradisional, Mila juga mempelajari tarian modern. Diantaranya saat duduk di bangku sekolah aktif sebagai cheersleader, ballet dan salsa. Tujuan Mila mempelajari beberapa tarian ini untuk memperkaya pengetahuan. “Jika tubuh kita terbiasa maka akan lebih mudah mengolah sebuah tarian. Selain itu semua tarian ini dapat dirangkai menjadi sebuah mozaik. Bahkan sebuah kreasi baru akan terlihat apik tanpa meninggalkan unsur tradisi,” kata Mila.
Baginya menari diibaratkan sebuah ritual berdoa. Dimana untuk melakoni hal ini harus dengan serius dan totalitas. Prinsip inipula yang didapatkan dari kedua orangtuanya ketika memutuskan masuk ke dunia tari. Diawal dirinya sebelum memutuskan masuk ke ISI Jogjakarta, Mila sempat mengalami godaan. Ini datang dari teman-temannya yang mempertanyakan keseriusannya di dunia tari. Bahkan waktu itu dirinya sudah diterima di beberapa institusi pendidikan baik negeri maupun swasta. “Dunia tari bisa memberikan masa depan yang baik jika benar-benar total dan gigih,” katanya. (dwi/ila)