BERAWAL dari iseng dan mengisi waktu luang, dance rupanya tak bisa dilepaskan dari diri Jodilee Norma Warwick. Bahkan, kini bukan hanya jadi hobi yang bisa untuk meluapkan ekspresi saja. Namun kemampuannya melakukan gerakan-gerakan dance ditularkan juga pada yang lain.
Semakin senang pada hobinya ini, Jodi, sapaannya, tak berhenti mengeksplorasi diri dengan terus membuat gerakan-gerakan baru yang dipadu selaras dengan musik yang dipilih. Kecintaannya pada salah satu seni tari modern ini melekat sejak dirinya masih duduk dibangku kelas 3 SMP.
Saat itu, dirinya mendapat tugas pelayanan di gereja untuk membawakan dance bersama teman-teman sebayanya. Alhasil, hingga kini dance tak hanya sekadar hobi tapi menjadi penyalur ekspresi dan kreasi bagi dirinya. “Karena kalau dance bawaannya senang terus, kita juga jadi termotivasi untuk menciptakan gerakan baru dan luwes tentu saja,” ujar Jodi.
Saat ini Jodi tak hanya terus meluapkan hobinya saat pelayanan di gereja saja, namun juga berkreasi bersama anak-anak di lingkungan rumahnya. Apalagi jelang peringatan 17 Agustus, seperti tahun-tahun sebelumnya, bersama anak-anak di lingkungan rumahnya di daerah Kasian, Bantul, Jodi ingin mempersembahkan kreasi dance yang beda.
Jika banyak anak muda seusianya mengangkat tema-tema yang populer, seperti K-pop, baginya mengangkat tema lokal akan lebih pas. “Untuk acara 17 Agustus besok kita pakai lagu Indonesia Jaya dan gerakannya memadukan antara balet dari tari seribu tangan,” ujarnya semangat.
Tapi untuk tahun ini, mahasiswi STIE YKPN ini tak dapat bergabung dan tampil di acara 17 Agustus. Meski demikian, dirinya tetap bersemangat mengajarkan kreasi gerakan pada anak-anak yang akan membawakannya.
“Di gereja maupun di lingkungan rumah juga jadi sering ngajar dance. Memang lebih suka ngajarin gerakan ke anak-anak karena mereka lebih cepat tanggap dan luwes,” paparnya yang harus sabar menghadapi anak-anak usia 7 hingga 10 tahun ini.
Baginya, dance tidak hanya harus menghafal gerakan dan menarikannya tetapi juga harus berkreasi dan menyelaraskan dengan musik. Disitulah sulitnya, selain tubuh juga harus luwes. Karena menurutnya tidak semua orang memiliki tubuh yang luwes. “Saya pernah dikabari untuk tampil pelayanan di gereja dan latihan hanya punya waktu seminggu. Ya dalam satu minggu itu saya dan teman-teman harus buat gerakan, melatih kekompakan dan lagu,” ujarnya.
Meskipun sangat menikmati dance, namun gadis yang juga berprofesi sebagai model ini belum memiliki rencana untuk terjun lebih serius di dunia tari modern. “Saya tetap ingin bisa dance terus, tapi belum punya pikiran untuk serius. Hanya sekadar hobi mengisi waktu luang saja,” ujar Jodi. (dya/ila)