SEPERTINYAbaru kali ini terjadi di wilayah Sleman, masyarakat memikul gunungan ayam ingkung goreng dalam suatu upacara tradisi. Gunungan berisi 225 ayam utuh setinggi sekitar 1,5 meter. Gunungan biasanya menjadi simbol wujud syukur masyarakat atas karunia Tuhan. Demikian pula di Kalasan yang kondang dengan kuliner nusantaranya berupa ayam goreng kremes. Ayam goreng Kalasan juga selalu tersedia hampir di seluruh pusat-pusat kuliner di Indonesia.
Menu itu memang telah menjadi salah satu potensi yang digeluti masyarakat Kalasan. Bahkan menjadi salah satu mata pencaharian selain bertani. Menu itu juga menjadi andalan bagi warga yang merantau ke luar daerah dalam mencari penghasilan hidup. Tidak ubahnya para penjaja pecel lele asal Lamongan, kethoprak Jakarta, atau soto Kudus. Tidak sedikit warga Kalasan yang sukses di luar daerah dengan menjadi pengusaha kuliner ayam kremes. Salah satu yang terkesan sejak pertama kali mencicipi ayam kremes Kalasan adalah AA Ayu Laksmidewi. Perempuan yang kini menjabat kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu mencoba menu itu pada 1970-an. “Dari dulu sampai sekarang rasanya tidak berubah. Itu kekhasannya,” ungkap Ayu yang berasal dari Pulau Dewata Bali di sela prosesi kirab kemarin (10/8).
Nah, itulah yang menggugah masyarakat asli asal ayam kremes bersyukur kepada Tuhan. Selain lebih mengenalkan sajian khas Kalasan, yang menjadi kekayaan kuliner Kabupaten Sleman. Gunungan ayam kremes dikirab mengitari di Pedukuhan Candi Sari, Bendan, Tirtomartani sejauh kurang lebih tiga kilometer. Puluhan warga terlibat dalam prosesi kirab. Ratusan wisatawan lokal dan mancanegara turut menyaksikan kegiatan tersebut. Sesampai di kawasan Candi Sari, ayam ingkung dibagikan gratis kepada warga dan wisatawan yang sedang berkunjung di candi peninggalan kerajaan Budha itu.Ayu sangat mendukung ritual yang sekaligus menjadi ajang pelestarian kuliner khas Sleman. Kekayaan kuliner memang tidak bisa lepas dari dunia pariwisata. Untuk itu, dia mendorong 48 pengusaha ayam goreng skala rumah tangga di Bendan agar tetap eksis meski saat ini muncul menu-menu baru yang memperkaya kuliner nusantara.
Lebih dari itu, Ayu berusaha membentuk sinergitas sektor pariwisata dengan kekayaan kuliner khas. Agar menu-menu lokal tidak kalah bersaing dengan junkfood berlabel asing yang kian marak bermunculan di wilayah Sleman. Puryani, 47, salah seorang juru masak ayam kremes Kalasan berharap upacara adat kirab gunungan ingkung bisa menjadi agenda rutin. “Agar lebih dikenal banyak orang,” ungkapnya. Para pelaku usaha ayam goreng di Kalasan tidak hanya membuka warung. Pendapatan utamanya justru dari pesanan masyarakat di luar Sleman.(*/din)