PIYUNGAN – Keberadaan petugas pendamping dari Dinas Kebudayaan Pemprov DIJ dinilai efektif mendorong pelestarian kembali beragam kesenian dan kebudayaan tradisional.Setidaknya itu tercermin dengan menggeliatnya kembali beragam kesenian dan kebudayaan tradisional di Kelurahan Sitimulyo, Piyungan.Kabag Ekbang Kelurahan Sitimulyo Heru Didik mengatakan, warga kelurahan Sitimulyo mengapresiasi pemberian petugas pendamping dari Dinas Kebudayaan. Itu karena beragam jenis kebudayaan dan kesenian tradisional yang sempat mati suri, kini berlahan hidup kembali. “Ketika ada pendampingan warga menjadi semangat,” terang Heru di sela-sela acara pementasan jathilan dalam rangka memeriahkan HUT ke-69 Republik Indonesia di Dusun Banyakan I, Sitimulyo, Piyungan kemarin (10/8).
Di antara kebudayaan dan kesenian tradisional yang hidup kembali adalah Merti Dusun, Jathilan, Kethoprak Lesung, dan Wayang Wong.Heru menceritakan, beragam kebudayaan dan kesenian tradisional tersebut sempat mati suri selama puluhan tahun. Namun demikian, embrio tradisi para leluhur tersebut masih terjaga. “Acara jathilan dalam rangka memeriahkan HUT RI di Banyakan I ini baru pertama kali. Dan seluruh kegiatan kesenian tradisional hasil swadaya warga sendiri,” ujarnya.Menurutnya, dua kelompok jathilan yang pentas berasal dari Banguntapan. Harapannya warga dusun Banyakan I semakin terangsang membentuk kelompok Jathilan sendiri.
Sejak bulan Juni, terang Heru, dua petugas pendamping mengidentifikasi seluruh kebudayaan dan kesenian tradisional di kelurahan Sitimulyo. Tidak terkecuali embrionya. “Sekaligus memberikan pendampingan. Mereka akan bertugas hingga Desember nanti,” ungkapnya.Ketua Pemuda-Pemudi Banyakan 1 RT 3 Slamet Widodo mengatakan, pementasan jathilan sebagai salah upaya menghidupkan kembali kesenian tradisional.Apalagi, melalui dana keistimewaan seluruh kebudayaan dan kesenian tradisional akan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.(zam/din)