SLEMAN – Cerita kolosal wayang orang kembali dihadirkan oleh Wayang Orang Panca Budaya. Bertempat di pendopo Kantor kecamatan Berbah, Sleman, kelompok ini mengusung lakon Begawan Mintaraga belum lama ini (5/8). Warga Berbah baik tua maupun muda pun berduyun-duyun memadati pendopo ini.
Sutradara Panca Budaya Tukiran mengungkapkan lakon ini ada sejak abad 17. Kisah tentang Bagawan Mintaraga pertama kali ditulis oleh Sunan Paku Buwana III dalam bentuk tembang macapat pada tahun 1704. Judul dari tembang macapat ini adalah Serat Mintaraga. “Tidak lama kemudian Raden Ngabehi Yasadipura I menulis Serat Wiwaha Jarwa, yang juga bercerita tentang Arjuna bertapa. Lalu tahun 1953, Dr M Prijohoetomo menulis cerita Mintaraga dalam bentuk prosa dengan judul Serat Mintaraga Gancaran,” kata Tukiran seusai pementasan.
Berkaca dari karya-karya ini, Tukiran beranggapan bahwa cerita tentang Bagawan Mintaraga begitu banyak ragamnya. Begawan Mintaraga sendiri merupakan perwujudan dari Arjuna yang sedang bertapa. Meski begitu inti cerita dari Bagawan Mintaraga pada prinsipnya sama.
Diawali dengan Bathara Guru yang diperankan Rahmad Santosa, Bathara Narada diperankan oleh Slamet GK dan Bathara Indra oleh Herida Damarwulan berunding dengan beberapa dewa. Para penghuni kayangan ini berkumpul karena adanya amukan Prabu Niwatakawaca diperankan Sarjiwa.
Amukan sang prabu raksasa ini karena ingin mempersunting Bathari Supraba yang diperankan Diah Margaretha Tiofany. Para Bathara dan dewa ini mengutus Ditya Kala Mamangdana diperankan Widada PB dan Ditya Kala Mamangmurka diperankan Widada Kusnantya untuk melawan. “Baru menghadapi ajudannya saja sudah kalah. Alhasil mengutus tujuh bidadari untuk menguji keteguhan Begawan Mintaraga diperankan RM Kristiadi di Gunung Indrakila. Usaha tujuh bidadari menggoda Arjuna inipun tetap gagal,” kata Tukiran.
Barulah saat Bathara Indra menunjukan diri, Begawan Mintaraga menunda tapanya. Tujuannya untuk menjawab pertanyaan Bathara Indra tentang alasanya bertapa. Bagawan Mintaraga menyatakan bahwa dia ingin agar Pandawa tetap utuh lima setelah usai perang Bharatayuda.
Bathara Indra menyanggupinya, tapi pernyataan Bagawan Mintaraga itu membuat Semar kecewa. Sebab Mintaraga hanya minta keutuhan lima Pandawa. Berarti anak cucu Pandawa akan menjadi korban dalam perang Bharatayuda.
Tukiran menuturkan Lakon Begawan Mintaraga sebenarnya adalah ajaran tentang tapa brata. Seni pertunjukan ini, menurutnya, penuh dengan simbol yang mengandung nilai-nilai filosofi kehidupan. Bersatunya panah Mintaraga dengan panah Kilatarupa pada tubuh babi hutan adalah simbol suatu keberhasilan tapa brata untuk menyatukan pikiran dan hati dengan kehendak Tuhan. (dwi/ila)