MINGGUpagi (10/8) Stadion Kridosono riuh oleh ribuan orang dan sepeda. Bertajuk Gowes Sehat, acara ini sebagai bentuk syawalan akbar Idul Fitri 1435 H. Selain itu, acara ini juga dikemas untuk menyambut 69 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.Kebahagiaan ini tak terkecuali bagi Slamet yang datang sendirian. Bersenjatakan onthel kebo lawas miliknya, pria kelahiran Salatiga 15 Juni 1943 ini berhasil membawa pulang mobil Suzuki Karimun. Raut muka senang bercampur tak percaya menghiasi kebahagiaannya pagi itu.”Tidak menyangka bisa membawa pulang hadiah utama mobil ini. Awalnya sudah mau pulang karena sejak awal tidak dapat apa-apa. Baru sampai depan panggung kok nomor tiket saya disebut. Ini namanya rezeki keberuntungan,” ujar suami Mujiati ini dengan wajah yang masih seakan tidak percaya.Bintang keberuntungan memang menaungi Slamet hari itu. Bagaimana tidak, untuk ikut Gowes Sehat ini dirinya hanya bermodalkan dua tiket. Bahkan sebelumnya dia hanya memikiki satu tiket untuk ikut gowes sehat ini. Tiket pertamanya dibeli di kantor Jawa Pos Radar Jogja Ringroad Utara 88 Depok, Sleman, Jogjakarta, hari Sabtunya (9/8). Sedangkan tiket keduanya dibeli di Kridosono pada Minggunya (10/8). Tak disangka tiket kedua yang dibeli on the spot ini justru merupakan dewi fortuna baginya.”Waktu itu mendengar dari panitia masih ada tiketnya, tapi tidak mendapatkan kaos. Iseng saya beli saja, justru ini yang menang,” katanya.
Rasa tak percayanya ini terus menenemaninya meski sudah mendapatkan hadiah utama. Bahkan saat mengisi biodata, terlihat tangannya bergetar. Beberapa kali dirinya harus berhenti untuk menenangkan tangannya.Awal mula keikutsertaan Slamet setelah membaca Jawa Pos Radar Jogja. Rasa tertariknya bertambah ketika pada hari Sabtu dirinya membaca anggota TNI ikut serta dalam acara ini. Rupanya, Slamet merupakan pensiunan TNI Angkatan Darat.Ajang ini pun dimanfaatkan olehnya sebagai ajang syawalan dengan rekan sejawat. Sehingga dirinya dengan bersemangat mengikuti Gowes Sehat Bersama Paramex dan Radar Jogja ini. Meski telah pension, dirinya tetap menjalin hubungan baik dengan para sahabatnya di kesatuan.”Senang Mas bisa berkumpul teman-teman angkatan. Istilahnya srawung dengan teman-teman lama. Kalau saya sudah pensiun tahun 1991 lalu,” katanya.
Sebelum pensiun, Slamet pernah menjabat Danramil 0734/ Gondomanan Jogjakarta. Selalu menjaga kebugaran dan kesehatan selama bertugas pun terbawa hingga saat ini. Sebagai rutinitas, dirinya kerap bersepeda di pagi hari.Meski jaraknya tidak terlalu jauh, cukup menjaga fisiknya yang telah berumur 71 tahun ini. Hal ini terlihat dari fisiknya yang masih tegap. Bahkan dirinya pun masih dapat mengingat beberapa kenangannya selama bertugas.Bersepeda telah menjadi bagian dari hidupnya. Bermodalkan sepeda onthel kebo dirinya rutin mengitari wilayah rumahnya di Kampung Cokrokusuman, Kelurahan Cokrodiningratan, kecamatan Jetis, Kota Jogjakarta. Waktu khusus disiapkan selama dua jam setiap pagi harinya.”Rata-rata per minggu bisa menempuh 20 km untuk bersepeda. Dengan rutinitas ini bisa menjaga tubuh tetap sehat. Selain itu juga membuat pikiran tetap jernih dan bersemangat,” katanya.Sepeda onthel kebo miliknya ternyata merupakan sahabat sejatinya. Sepeda ini telah menemaninya sejak tahun 1950-an. Waktu itu Slamet membeli sepeda ini dengan harga Rp. 700, -. Meski bukan sepeda baru, dia tetap merawatnya dengan baik.Beberapa onderdilnya pun masih terlihat asli. Bahkan cat sepeda ini tetap terawat dengan apik. Meski tidak melakukan perawatan khusus, Slamet selalu menjaganya dengan baik. Sesekali dirinya mengelap sepedanya ketika pagi.”Belinya pun tidak baru dan hanya sepeda bekas, membeli dari hasil tabungan. Kalau ada yang rusak, ya diperbaiki sendiri. Meski anak saya juga punya sepeda yang lebih baru, tapi lebih mantab pakai onthel kebo ini,” katanya.
Sepeda ini pula yang mengantarkan Slamet dalam keberuntungan lainnya. Masih ingat di memorinya saat mengikuti sepeda gembira pada tahun 2012. Bermodalkan sepeda yang sama, dirinya mendapatkan hadiah umroh pada tahun 2013.Hadiah umroh ini didapatkannya setelah mengikuti sepeda gembira yang dilaksanakan oleh Ustad Yusuf Mansur pada tahun 2012. Meski diakuinya dalam setiap mengikuti event sepeda gembira, hadiah tidak menjadi target utamanya.”Setiap ada sepeda gembira, pasti ikut, asalkan masih di Jogjakarta. Kalau beli tiket ya seperti ini tidak banyak, hanya satu atau dua tiket saja,” kenang Slamet.Bicara tentang keberuntungannya, ternyata malam sebelumnya Slamet mendapatkan firasat. Firasat ini didapatkan saat sedang bersantai di teras rumah. Waktu itu dia melihat topi yang dipakainya bergerak sendiri.Menduga ada tikus di dalam topinya, Slamet pun bergegas mengambil sapu lidi. Sapu ini dipukulkannya ke topi miliknya. Ternyata di dalam topi ini tidak ada tikus. Sontak hal ini membuatnya terheran-heran.”Lalu saya bilang ke istri saya kalau baru saja topi di dinding bergerak sendiri. Untuk menenangkan diri, saya lalu ambil air wudu dan salat tahajud,” katanya.Tentang hadiah yang didapatkannya, Slamet akan memanfaatkannya dengan maksimal. Slamet pun segera menelpon anaknya yang ada di rumah untuk berembug bersama. “Belum tahu nanti diatasnamakan saya atau nama anak saya. Yang jelas saya bersyukur atas berkah ini,” tandas Slamet.(*/laz)