MAGELANG – Yoga Raharja hanya mampu berbaring di kamarnya yang berdinding papan kayu. Kepalanya membesar, tubuhnya kurus mengecil. Untuk sekedar bicara saja, anak berusia 13 tahun ini tak mampu. Saat koran ini berkunjung, terdengar lirih suara tangisnya, seolah menyambut kedatangan kami.”Kalau mau minta makan, minum, tidur atau apapun Yoga hanya bisa merintih dan menangis seperti bayi,” ungkap Susanto, 39, ayah Yoga saat ditemui di rumahnya Kampung Beningan RT 1/RW 1, Wates, Magelang Utara, Kota Magelang,
Kemarin (10/8).
Menurut Susanto, anak bungsunya tersebut menderita penyakit Hydrocephalus sejak bayi. Semula, Yoga lahir normal dan tumbuh sehat seperti bayi umumnya. Menginjak usia tiga bulan, ada benjolan sebesar bola tenis meja di kepalanya.Susanto dan istrinya, Ipug Wiryanti, 38, sudah memeriksakan anaknya ke dokter umum. Saat itu, dokter belum mendiagnosa penyakit apapun pada Yoga, hanya diberi obat berupa salep. “Waktu istri hamil Yoga, saya banyak pelihara burung merpati. Ada virus tokso yang masuk ke tubuh istri saya. Itu yang menyebabkan Yoga jadi begini. Kata dokter begitu,” tuturnya.
Dijelaskan, mulai usia tiga tahun nyaris tidak ada perubahan yang berarti pada pertumbuhan Yoga. Selain kepala Yoga yang semakin membesar. Sedangkan tubuh, kaki, dan tangannya mengecil hanya menyisakan kulit dan tulangnya.Atas saran beberapa teman yang juga punya anak penderita Hydrocephalus, Susanto memeriksakan Yoga ke RS Elizabeth Semarang. Selama seminggu dirawat, tidak juga membuahkan hasil yang menggembirakan.”Kata Dokter, Hydrocephalus yang diderita anak saya berbeda. Kepalanya membesar akibat tulang tengkoraknya yang membengkak, bukan berisi cairan. Sehingga tidak bisa dioperasi,” jelasnya.Susanto pun memutuskan pulang dan merawat Yoga seadanya di rumah. Kendati begitu, bukan berati keluarga tidak berusaha apapun. Menurut Susanto, segala macam resep obat hingga pengobatan alternatif diusahakan keluarga untuk menyembuhkan Yoga. “Setiap hari, Yoga mengalami kejang. Entah apa memang penderita Hydrocephalus juga demikian. Kejangnya sekitar dua menit. Habis kejang pasti rewel dan mengompol,” ungkapnya.
Pihak keluarga juga mengupayakan berbagai bantuan dana ke sejumlah pihak. Sebab, pekerjaan Susanto sebagai tukang servis kamera dan buruh serabutan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi masih ada dua kakak Yoga yang masih mengeyam pendidikan di bangku SMA dan SMP. Istrinya, ungkap Susanto, sejak dua bulan ini memutuskan bekerja sebagai sales minuman fermentasi.”Sebelumnya istri saya yang menjaga Yoga setiap hari, karena kakak-kakak Yoga harus tetap sekolah. Kemudian, istri mulai bekerja. Kami gantian menjaga Yoga,” paparnya.Sementara ini, keluarga Susanto masih tinggal menumpang di rumah adik laki-lakinya. Adiknya saat ini tinggal di Tegal, bertugas sebagai tentara. Susanto hanya berpasrah dan menanti keajaiban dari Tuhan. Sembari berupaya mencari bantuan pengobatan agar kelak putranya bisa merasakan indahnya dunia ini.(dem/hes)