JOGJA – Kolaborasi dunia sastra mengilhami sejumlah seniman Malaysia dan Jogjakarta. Salah satu wujudnya adalah kolaborasi yang dilakukan pada Jumat (8/8) malam di tembi Rumah Budaya Jogjakarta. Kolaborasi ini terdiri dari pembacaan puisi dan juga musikalisasi puisi bersama.
Perwakilan sastrawan Indonesia Yohannes Sugianto mengungkapkan kolaborasi ini penting. Dimana dengan adanya kolaborasi ini para sastrawan akan saling melihat. Imbasnya pertukaran ide dan khazanah akan dunia sastra semakin bertambah. “Ternyata Jogjakarta bagi sastrawan Malaysia merupakan kawah candradimuka. Dimana di tempat ini melahirkan beberapa seniman besar Indonesia,” kata Yohannes ditemui di Legend Coffee.
Ketertarikan sastrawan Malaysia ini bertambah dengan banyaknya penulis tangguh. Antusiasme untuk berkolaborasi telah didengungkan jauh-jauh hari. Kolaborasi sendiri dilakukan dalam berbagai wujud pementasan. Di Tembi selain saling menyapa, para sastrawan ini juga saling melihat. Dalam kesempatan ini setiap perwakilan menyumbangkan karyanya untuk dibacakan. Bahkan beberapa terlihat berkolaborasi sehingga menghasilkan karya yang indah.
Kolaborasi dalam wujud masal sendiri diakui oleh Yohannes baru pertama kalinya. Sebelumnya para sastrawan ini lebih cenderung berkolaborasi secara individual. Bahkan komunikasi yang terjalin hanya dilakukan beberapa diantara sastrawan ini saja. “Lalu timbul keinginan untuk datang langsung ke Jogjakarta. Untuk rombongan dari Malaysia dipimpin oleh Irwan Abu Bakar. Ada dua rombongan terdiri dari 14 sastrawan dan 12 mahasiswa jurusan sastra,” kata Yohannes.
Dalam kesempatan ini sastrawan Malaysia juga membawa karya mereka. Irwan Abu Bakar dengan bukunya yang berjudul Meja 17, Aktivis dan Aktivitas E-Satra Malaysia oleh Puzi Hadi dan Republik Korupsi karya Nimoiz T.Y. Ketiga buku ini berisikan kumpulan puisi karya ketiga sastrawan tersebut.
Sesuai dengan aslinya, puisi dalam buku ini tidak disunting ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga bahasa Melayu tetap dipertahankan dalam buku ini. Tujuannya agar tetap asli, juga dapat melihat perbendaharaan kata dalam dunia sastra Malaysia. “Mungkin beberapa ada yang terdengar janggal tapi ini apa adanya. Perbedaan tentunya bukan menjadi penghambat dalam berkembangnya sastra,” kata Yohannes. (dwi/ila)