PAMERAN yang menyajikan karya patung dan lukisan ini merupakan persembahan Jogja Contemporary. Farah Wardani mengungkapkan, tema ini relevan dengan perubahan medan politik dan transformasi sosial di Indonesia.‘”Khususnya tahun ini bisa dikatakan sebagai puncak, di mana sedang ada proses pemilihan presiden baru yang mencerminkan proses demokrasi kekinian. Proses ini merupakan proses berkelanjutan sejak reformasi,” katanya (11/8).Farah menambahkan pameran ini merupakan proyek mempertanyakan kembali beberapa gagasan. Di antaranya kebebasan, kemerdekaan, nasionalisme dan kebanggaan akan kebangsaan. Selain itu juga pemaknaan masyarakat modern tentang gagasan-gagasan tersebut sekarang.”Keterlibatan seni dalam konteks sekarang adalah dalam hal estetika dan pengkaryaan. Tidak lagi dalam hal keterlibatan seniman secara infrastruktural,” tambahnya.
Para seniman dalam pameran ini, Anggar Prasetya, Deddy PAW, Made Wiradana, Laksmi Shitaresmi, dan Wahyu Santosa. Melalui karyanya, mereka menghadirkan refleksi yang berbeda.Refleksi ini untuk memaknai tema Ibu Pertiwi yang diusung. Menggunakan medium yang berbeda-beda untuk menunjukkan ragam pemaknaan kebangsaan. Deddy PAW menggunakan simbol apel dan Buddha dalam karyanya.”Untuk menghantarkan pesan spiritualitas yang sekuler akan gagasan persatuan dan kedamaian,” ungkap Deddy.Made Wiradana menggunakan simbol kuda dalam lukisan-lukisannya sebagai metafora keberagaman yang selalu bergerak. Wahyu Santosa mengeksplorasi seni tradisi dalam karya patung modern.Anggar Prasetya merefleksikan keadaan sekarang dalam perubahan politik dan kepemimpinan di masyarakat demokratis. Laksmi Shitaresmi hadir dengan karya patung resin. Karyanya kali ini terwujud dalam bentuk dua anjing berwarna merah. Kedua anjing saling berhadapan satu sama lain. Di punggung masing-masing anjing ini duduk perempuan kecil. “Patung ini menyiratkan pemikiran akan kolektivitas dalam bangsa yang berubah,” kata Laksmi. (*/laz)