JOGJA– Hari ini 18 tahun lalu, 13 Agustus 1996, wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin dianiaya orang tak dikenal. Ia meninggal tiga hari kemudian setelah dirawat di RS Bethesda Jogja. Namun hingga sekarang kasus tersebut belum juga terungkap. Pelaku pembunuh Udin masih gelap.”Itu menjadi tantangan kita semua. Kasus Udin bukan hanya menjadi perjuangan bagi kalangan wartawan, jurnalis, dan aktivis pro-demokrasi maupun hak asasi manusia. Kasus Udin harus menjadi masalah bagi publik,” mantan Ketua Forum LSM DIJ Unang Shio Peking saat bekunjung ke rumah orang tua Udin di Dusun Gedongan, Trirenggo, Bantul, kemarin (12/8).Unang bersama sejumlah aktivis tampak memadati rumah Udin. Mereka antara lain Tri Wahyu Kus Hardiyatmo, Damar Dwi Wahyu, Odi Solahudin, Sigit Sugito, Winarta, dan beberapa pegiat LSM lainnya. Sebelum ke rumah Udin, mereka lebih dulu berkumpul di depan bekas kantor Harian Bernas di Jalan Soedirman 58 Jogja. “Dari sana, kami ramai-ramai ke Bantul,” ujar Unang.Ada sejumlah pendapat menyatakan tepat 18 tahun peristiwa meninggalnya Udin bakal memasuki masa kedaluwarsa. Itu sebabnya, sejumlah aktivis LSM sepakat mendirikan Komite Persiapan Pendirian Perkumpulan Keluarga Pejuang Demokrasi dan HAM (KP3KPD HAM). Unang ditunjuk sebagai ketua tim ad hoc KP3KPD HAM. Mereka juga mengeluarkan petisi. Isinya, mendesak presiden terpilih memanggil Kapolri agar meninjau kembali perkembangan penanganan perkara Udin.
Sikap tegas pemerintah, kata Unang, diharapkan mampu menguak perkara yang telah berusia 18 tahun ini. Dengan begitu, masyarakat akan dapat kembali mempercayai hukum. Demikian pula dengan penanganan sejumlah perkara pelanggaran HAM lainnya.Menurutnya, selama ini lembaga bantuan hukum, lembaga swadaya masyarakat, maupun organiasi kemanusiaan dan HAM telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong penuntasan perkara yang diduga berlatarbelakang pemberitaan ini. “Mulai audiensi, demonstrasi, pemberitaan hingga peninjauan kembali telah dilakukan,” urainya.Hanya saja, berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil. Dari itu, lanjut Unang, mandeknya penanganan perkara ini mengindikasikan ketidakseriusan kepolisian. “Dalihnya selalu belum menemukan bukti. Tetapi kita tidak lupa,” ungkapnya.
Padahal, perkara ini tak hanya mendapatkan atensi dari dalam negeri. Melainkan juga publik internasional. Sebab, perkara ini termasuk pelanggaran HAM serius. Tentunya pembiaran terhadap perkara ini juga dapat berdampak pada stigma pelecehan terhadap HAM. “Dan selama ini lembaga yang memperjuangkan perkara ini hanya itu-itu saja. Tak bertambah,” keluhnya.Karena itu, Unang pun mengajak seluruh pihak yang peduli terhadap kasus ini merumuskan strategi baru. Selain itu mereka juga sepakat mendorong Udin menjadi pahlawan nasional. Perjuangan agar Udin menjadi pahlawan nasional itu akan dilakukan mulai 2014 ini. “Dalam waktu tidak terlalu lama, kami ingin perjuangan menjadikan Udin sebagai pahlawan dapat direalisasikan. Kami ingin agar pemerintah mendengarkan aspirasi ini,” tegasnya.Selama berada di rumah Udin, terlihat sejumlah kerabat Udin menyambut. Di antaranya kakak, adik , paman, maupun bibi Udin. Tak ketinggalan Ny Marsiyem, istri Udin serta kedua anak Udin. Setelah dari rumah Udin, acara dilanjutkan dengan mengadakan ziarah dan tabur bunga di makam Udin.
Ny Marsiyem mengapresiasi langkah dan perjuangan berbagai elemen masyarakat yang terus berjuang agar kasus yang dialami suaminya terungkap. Sesuai pesan ibunda Udin, keluarga tidak akan terima hingga kapan pun. “Hingga kiamat tak bisa menerima kalau pelaku pembunuh Mas Udin belum juga tertangkap. Ini menjadi perjuangan kita semua,” tutur Marsiyem.Masih terkait peringatan 18 tahun terjadinya penganiayaan terhadap Udin, PWI DIJ hari ini Rabu (13/8) menggelar keterangan pers di kantor PWI DIJ Jalan Gambiran No 45 Jogja. “Kami akan menyampaikan beberapa hal termasuk langkah-langkah ke depan terkait pengungkapan kasus Udin,” ucap Ketua PWI DIJ Sihono Harto Taruno.Menurut Sihono, sudah banyak langkah yang dilakukan PWI untuk mendesak polisi. Itu baik lewat seminar, diskusi, hingga menggugat Polda DIJ dan Mabes Polri secara hukum. Namun demikian, polisi dinilai begitu lamban memenuhi tuntutan PWI. “Padahal banyak bukti sudah diserahkan Tim Pencari Fakta PWI untuk kasus Udin,” beber Sihono.Sekretaris PWI DIJ Primaswolo Sudjono menambahkan, tak kunjung terungkapnya kasus Udin dikhawatirkan akan menciderai kebebasan pers. “Profesi jurnalis seakan tidak mendapatkan perlindungan dari negara,” sesalnya. (zam/kus/din/laz)