SALAHsatu perancang yang terus konsisten mengangkat batik dalam setiap rancangannya yakni Lidwina Wury. Perancang yang akrab disapa Wiwin ini banyak mengangkat beragam batik nusantara. Salah satunya batik Purworejo. “Batik Purworejo sudah turun termurun dikembangkan keluarga, dan kali ini saya mengembangkannya dalam bentuk busana yang wearable,”ujarnya dalam mini show di The Phoenix Hotel Jogja belum lama ini.Pemilik lini Ind Batik dan pengelola The Heritage Batik Lung Kenanga ini mengatakan, seperti yang dimiliki motif batik dari daerah lainnya, batik Purworejo juga memiliki ciri khas tersendiri. Terutama dari segi warna yang dominan dengan warna gelap, yakni hitam, coklat dan sangat sedikit warna putih.
Warna yang cenderung gelap, menjadi tantangan bagi Wiwin untuk merancangnya dalam bentuk busana yang modern dan menghilangkan kesan batik yang kuno. Motif batik seperti mlati secontong dan laler mengeng menjadi point of view tersendiri untuk koleksinya. Memadukan motif klasik dengan warna gelap menjadi busana wearable yang anggun. “Salah satunya bentuk celana yang mirip jarik, jadi sekilas tampak orang yang memakai seperti sedang jarikan, padahal itu celana,”ujar salah satu perancang yang tergabung dalam komunitas desainer Rempeyeks ini.
Rancangannya kali ini menggunakan cutting yang simple namun tetap menonjolkan kesan etnik dan modern. Selain celana jarik, dia juga mengangkat dalam bentuk gaya casual lainnya, seperti semi blazer dan terusan pendek yang simple dan nyaman digunakan. Terutama bagi para wanita yang aktif dan dinamis. Koleksi ini bisa juga dikenakan sebagai busana kantor, karena semi blazer yang memiliki kesan formal, ditambah permaianan kerah seperti kerah Shanghai. “Ini juga membuktikan bahwa batik itu dinamis dan dapat dirancang menjadi jenis busana apapun,”ujar Wiwin.Koleksi terbaru Wiwin daat dilihat dalam pameran fashion selama bulan Agustus 2014 ini di Museum Loung The Phoenix Hotel Jogja.(dya/din)